SM IAGI UNG EXPLORE TO BAKAN SITE, J-RESOURCES
(J-Resources Bolaang Mongondow, Bakan)
Assalamualaikum Wr. Wb
Dalam rangka peningkatan kemampuan Mahasiswa Teknik Geologi UNG dalam hal mengenal endapan mineral, maka SM-IAGI UNG bekerjasama dengan HMTG-UNG melaksanakan kunjungan ke salah satu perusahaan tambang emas yang ada di Sulawesi Utara tepatnya di Daerah Bakan, Bolaang Mongondow. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada tanggal 21 April 2018, selain untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa, kunjungan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa secara langsung tentang pola kerja di pertambangan, bagaimana kerja tim yang baik, serta diskusi langsung dengan para ahli di bidang pertambangan.
Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh mahasiswa,dosen pendamping kegiatan kunjungan, dan pendamping dari pihak P.T. GSM, Pak Hovi Swastika yang akan mendampingi peserta kunjungan menuju ke daerah Bakan. Pembukaan dilaksanakan pada tanggal 20 April 2018 bertempat di halaman Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Negeri Gorontalo.
Gambar 1. Upacara Pembukaan kegiatan kunjungan ke Bakan Site, P.T. J-Resources

Daerah kunjungan di tempuh dengan menggunakan bis dengan waktu tempuh sekitar 9 jam dari Kota Gorontalo menuju ke Kotamobagu. Peserta menginap di daerah Kotamobagu untuk persiapan menuju ke daerah Bakan keesokan harinya.
Pembukaan seminar diawali dengan pemberian materi Safety Induction oleh Pak Ahmad Chabid, disini beliau menjelaskan kepada mahasiswa mengenai K3 (Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan) yang wajib dipatuhi oleh seluruh karyawan dan pengunjung yang ada di JRBM guna meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan.
Gambar 2. Pemberian Materi Safety Induction

Materi kedua diberikan langsung oleh Pak Elang Brandoyo selaku Exploration Geologist, pada sesi ini Pak Elang menerangkan mengenai konfigurasi tektonik di daerah Bakan. Berdasarkan penjelasan beliau, daerah Bakan mengalami 2 periode tektonik, tepatnya pada kala Miosen dan pada kala Plio-Pleistosen.

Gambar 3. Pemberian materi Mining Geology oleh Pak Elang Brandoyo

Selanjutnya Pak Eddy Priowarsono memberikan materi tentang Production Geology Flow, yakni mengenai tahap-tahapan yang dilakukan pada saat explorasi sampai eksploitasi. Beliau menjelaskan metode-metode yang dilakukan seperti blasthole mapping, pitwall mapping, hingga proses kompilasi peta hasil eksplorasi.
Materi dilanjutkan oleh Pak Choldun tentang Mining Overview yang menjelaskan mengenai skema atau proses dan tahapan pengolahan ore dan waste yang ada di pertambangan JRBM Bakan. Beliau menjelaskan proses ekstraksi mineral ekonomis dengan menggunakan Leach Pad.
Kemudian materi dilanjutkan dengan tahapan proses pengolahan ore hingga menjadi emas batangan yang dijelaskan oleh Pak Cristian Kurniawan, disini mahasiswa dijelaskan mengenai proses pengolahan ore, pelakuan pada ore, dan hasil akhirnya. Beliau menjelaskan secara detail proses pengolahan bijih dengan menggunakan metode electrowinning hingga proses smelting.
Terakhir kami dijelaskan sedikit mengenai apa saja yang dilakukan JRBM terhadap area yang sudah tidak produktif lagi hingga bantuan mereka pada masyarakat sekitar pertambangan oleh CSR JRBM Bakan, Pak Rudi Rumengan. 
Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan fieldtrip. Pada sesi ini mahasiswa diperlihatkan langsung proses ekploitasi mulai dari pengambilan ore sampai pada tahapan perlakuan ore. Ekstraksi mineral ekonomis P.T. JRBM Bakan menggunakan metode Leach Pad. Metode ini dinilai lebih efisien dalam ekstraksi mineral ekonomis.
Gambar 4. Pengamatan langsung metode Leach Pad

Peserta kunjungan juga diajak mengunjungi salah satu pit, yakni Pit Main Ridge yang tengah beroperasi pada saat itu. Kondisi pit Main Ridge menunjukkan adanya ciri endapan high sulphidation. Pit ini telah mengalami proses pengayaan (supergene enrichment) yang merupakan sasaran penambangan perusahaan.
Gambar 5. Pengamatan di Pit Main Ridge

Sebelum menuju ke RecHall, mahasiswa diperlihatkan bekas pit yang sudah ditanami kembali. Setelah kegiatan fieldtrip ini mahasiswa dan panitia serta pemateri dari JRBM diajak kembali ke camp untuk menutup kegiatan ini. Satu hal yang sangat berkesan bagi kami adalah perhatian perusahaan yang sangat besar terjadap keselamatan karyawan serta teamwork yang harus benar-benar solid.
Gambar 6. Foto Bersama Peserta dan Pemateri dalam Kunjungan ke Bakan Site

Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak JRBM yang sudah dengan senang hati berbagi ilmu dan juga menerima dengan baik Mahasiswa Teknik Geologi UNG, tak lupa juga kepada Pak Muhammad Kasim, S.T., M.T. dan Pak Ahmad Zainuri, S.Pd., M.T. selaku dosen dan Kaprodi Teknik Geologi yang sudah senantiasi mendampingi kami dalam kegiatan ini, terakhir kepada pihak-pihak terkait yang sudah membantu menyukseskan kegiatan ini. Harapan kami kegiatan seperti ini lebih di tingkatkan lagi agar memberikan tambahan ilmu dan juga motivasi kepada kita untuk lebih maju kedepannya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Penulis : Reskiyanto Fauzi Duwingik (Ketua Bidang Sosialisasi SM-IAGI UNG 2017/2018)

Editor  : Fauzul Chaidir A. Usman (Ketua Umum SM-IAGI UNG 2017/2018

*Dokumentasi Kegiatan dapat dilihat disini

FIELDTRIP MAX (Metamorphic Area eXcursion)

Bismillahhirohmannirohhim…..

SM-IAGI UNG merupakan salah satu organisasi yang berada dibawah naungan oleh organisasi IAGI. SM-IAGI dalam melaksanakan program kerja pada setiap tahunnya selalu menjalin kerjasama dengan HMTG UNG. Untuk mengawali kerja nyata, organisasi SM-IAGI pada tahun ini memulai pada program kerja Fieldtrip. 
Program kerja Fieldtrip dilakukan pada tanggal 30 Desember 2017, dengan tema “Methamorphic Area eXcursion (MAX) di Kota Raya tepatnya di Desa Tinombala, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. 
Kegiatan fieldtrip dimulai dari pembukaan dan pelepasan oleh Ketua Program Studi Teknik Geologi, Bapak Ahmad Zainuri, S.Pd, M.T yang bertempat di halaman Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Negeri Gorontalo. 

Pembukaan dan Pelepasan oleh Ketua Program Studi Teknik Geologi Unversitas Negeri Gorontalo
Pelaksanaan fieldtrip berjalan dengan lancar, dengan pemateri ialah Bapak Muh. Kasim, S.T, M.T yang menjelaskan tentang petrogenesa batuan metamorf yang terdapat dalam formasi Malino Metamorphic Complex (MMC). Kegiatan Fieldtrip ini bertujuan untuk mengetahui geologi regional NW Sulawesi, serta menelisik jurnal penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya  pada lokasi fieldtrip.
Pemaparan materi dari Bapak Muh. Kasim, S.T, M.T
Kegiatan fieldtrip perdana kami berlangsung dengan lancar dan sukses. Oleh karenanya, Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Negeri Gorontalo, Ketua Program Studi Teknik Geologi, Pemateri, Panitia Pelaksana Kegiatan MAX, dan seluruh pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan keilmuan kita sekalian, khususnya tentang geologi. 

Salam Geologi,...

Foto Bersama Pemateri dan Peserta Fieldtrip MAX
Penulis: Siti Suhartini S. Napu - Anggota Divisi III (Divisi Sosialisasi) SM IAGI UNG 2017-2018
Editor: Fauzul Chaidir A. Usman - Ketua SM-IAGI UNG 2017-2018

Untuk Melihat Foto Kegiatan Fieldtrip MAX Lainnya, Silahkan Klik disini


Peserta:
Peserta kegiatan kuliah umum ini dihadiri ± 270 orang mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, dengan persentase mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kebumian 95% dan 5% dari mahasiswa Hukum serta Ilmu Pendidikan.
Penyelenggara:
SKK Migas bekerja sama dengan Universitas Negeri Gorontalo.
Pelaksanaan:
Kuliah umum dilaksanakan pada tanggal 23 November 2017 jam 08.00 – 11.30 WITA. Setelah acara kuliah umum ditutup dilanjutkan dengan pelantikan pengurus SM-IAGI Universitas Negeri Gorontalo periode 2017-2018 pada pukul 11.30-12.00 WITA di gedung PKM UNG.
Pembukaan Kegiatan Kuliah Umum SKK Migas Goes to Campus

Rangkaian acara kuliah umum SKK Migas Goes to Campus dimulai pada pukul 08.00 WITA dengan diawali sambutan dari SKK Migas oleh bapak Ridzki Simanjuntak selaku Finance and Administration Manager for SKK Migas Kalimantan & Sulawesi, dan dilanjutkan sambutan oleh Wakil Rektor III DR. Fence M. Wantu, S.H, M.H sekaligus pembukaan acara secara resmi. Pemberian materi kuliah umum dilaksanakan setelah pembukaan yaitu pada pukul 08.30-11.30 WITA.

Pemateri:
1.      Peranan Geoscience dalam Perkembangan Industri Hulu Migas (Ir. Shinta Damayanti – SKK Migas)
2.      Pengenalan Aspek Geologi dalam Eksplorasi (Erlangga Septama - PT. Pertamina EP)
Pemberian materi oleh ibu Ir. Shinta Damayanti

Pemberian materi oleh bapak Erlangga Septama

Setelah acara kuliah umum berakhir dilanjutkan dengan pelantikan pengurus SM-IAGI Universitas Negeri Gorontalo periode 2017-2018 oleh Ir. Shinta Damayanti selaku Sekjen IAGI (Sekretaris Jendral Ikatan Ahli Geologi Indonesia).
Penyerahan estafet kepengurusan SM-IAGI UNG oleh Ibu Ir. Shinta Damayanti

Penyerahan secara simbolis dari kepengurusan SM-IAGI 2014-2017 ke kepengurusan SM-IAGI 2017-2018

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada staf SKK Migas, Wakil Rektor III Universitas Negeri Gorontalo, Ketua Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian, Ketua Program Studi Teknik Geologi dan ketua SM-IAGI UNG periode 2014-2017 atas terselenggaranya kegiatan ini. Harapan kami selaku anggota SM-IAGI semoga pada kepengurusan SM-IAGI 2017-2018 menjadi pengurus yang bertanggungjawab dan amanah serta dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa kebumian khususnya mahasiswa Teknik Geologi Universitas Negeri Gorontalo mengenai ekplorasi di berbagi bidang geologi.
Foto bersama peserta kuliah umum bersama panitia dan SKK Migas



Penulis: Widya Annisa – Anggota Divisi III (Divisi Sosialisasi) SM-IAGI UNG
Editor: Dewi Darmayanti Tolodo – Anggota Divisi I (Divisi Course) SM-IAGI UNG

Terlampir Foto-foto Kegiatan Pelantikan Kepengurusan SM-IAGI UNG 2017-2018:
https://drive.google.com/open?id=1FZq52K0WNM24d5DClogJa6YdyXSYAPSP


Kuliah Umum dan Bimbingan Tugas Akhir
23-25 Februari 2016

Peserta:
Peserta kegiatan dari kuliah umum ini dihadiri ± 70 orang mahasiswa Teknik Geologi mulai dari semester 2 sampai dengan semester akhir dan dihadiri 3 orang dosen dari jurusan ilmu dan teknologi kebumian.

Penyelenggara:
Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi dan Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia, UNG.

Pelaksanaan:
Pelaksanaa kuliah umum dan bimbingan tugas akhir ini terlaksana selama 3 hari, selasa dan kamis di Aula Fakultas MIPA UNG.

Hari pertama, 23 Februari 2016

Pembukaan Kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo
Pembukaan Kegiatan
Rangkaian acara ini dimulai pukul 09.00 wita dengan diawali pembukaan oleh Dekan Fakultas MIPA Prof. Dr Evi Hulukati M.pd, dan dilanjutkan serta sambutan dari PT Gorontalo Minerals oleh General Manager Pak Dedi Hendrawan.
Setelah pembukaan, masuk ke acara inti dengan susunan pemateri  yang disertai dengan sesi tanya jawab.

Pemateri:
  1. Tahapan Eksplorasi (Oshlan R Towalu - PT GM)
  2. Perijinan dan Pengembangan Masyarakat (Didik B Hatmoko - PT GM)
  3. Metalurgi dan Pemrosesan (Subehan Ahmad - PT GM)

Salah satu peserta memberikan pertanyaan dalam kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo

Foto bersama dalam Salah satu peserta memberikan pertanyaan dalam kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo

Hari ke 2, 24 Februari 2016

Setelah kuliah umum diadakan satu hari, PT GM mengadakan sharing knowlagde kepada mahasiswa Teknik Geologi untuk pembuatan peta pada tugas akhir yang disesuaikan dengan daerah penelitian masing-masing.

Bimbingan Tugas Akhir Dari Ahli Geologi PT Gorontalo Minerals kepada Mahasiswa Teknik Geologi UNG
Bimbingan Tugas Akhir
Hari ke-3, 25 Februari 2016

Acara kuliah umum yang kedua ini dimulai dari jam 09.00 wita, dengan jumlah peserta yang semakin banyak dari sebelumnya. Pemateri dan materinya sbb:
  1. Pemodelan Geologi dan Estimasi SDM (Ndaru Cahyono - PT GM)
  2. Porphyry dan Epitemal HS (Setiono - PT GM)
Dengan program ini, kami sebagai mahasiswa dapat mempelajari banyak hal tentang geologi sekaligus good exploration-practice melalui para profesional dan industrialis sekaligus aktivis MGEI dan IAGI. Dari 3 hari kegiatan kemarin, kami menimba ilmu tentang: 
  1. Tahapan-tahapan eksplorasi mineral, dari desktop study, regional, field prospecting, hingga resource delineation.
  2. Perijinan-legal bisnis pertambangan dan pengembangan masyarakatnya.
  3. Dasar pengolahan dan ekstraksi mineral.
  4. Pemodelan geologi dan dasar estimasi sumberdaya mineral.
  5. Tipe deposit phorphyry Cu & epitermal high sulfidation Au-Ag-Cu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua MGEI, Ketua IAGI, manajemen dan staff PT GM atas terselenggaranya kegiatan yang sangat positif ini. Dimulai sejak Mei 2012, kami berusaha aktif mengundang pihak industri, organisasi profesi, maupun akademisi guna berbagi ilmu dan best-practice kepada kami. Kami berharap kolaborasi mutualisme seperti ini dapat terus terselenggara dengan peningkatan frekuensi, pengembangan network, dan keberagaman materi serta pemateri.

Salam,

Pasir merupakan material granular alami yang belum terkonsolidasi. Pasir terdiri dari butiran-butiran yang berukuran dari 1/16 – 2 mm. Butiran pasir bisa berupa mineral tunggal, fragmen batuan atau biogenik.

Material granular yang lebih halus dari pasir disebut sebagai lanau, dan yang lebih besar disebut sebagai kerikil. Pada umumnya pasir terdiri dari mineral silikat atau fragmen batuan silikat. Sejauh ini mineral yang paling umum ditemukan sebagai penyusun pasir adalah mineral kuarsa. Namun, pasir adalah material campuran yang terjadi secara alami, yang berarti bahwa pasir tidak hanya mengandung satu komponen tunggal. Pasir yang telah terkonsolidasi adalah jenis batuan yang dikenal sebagai batupasir.

Pasir di pantai
Pasir di pantai. (kidspot.com.au)
Pembentukan Pasir

Pasir terbentuk karena adanya proses pelapukan fisik dan kimia pada batuan. Proses pelapukan ini biasanya dipelajari secara terpisah, tetapi pada kenyataannya kedua proses ini biasanya berjalan beriringan karena keduanya cenderung saling mendukung dalam proses pelapukan.

Pelapukan kimia merupakan faktor penting dalam pembentukan pasir secara keseluruhan, karena proses ini terjadi secara efisien di lingkungan yang lembab maupun panas. Sedangkan pelapukan fisik hanya mendominasi di tempat-tempat yang dingin dan / atau kering. Pelapukan batuan dasar yang menghasilkan pasir biasanya terjadi di bawah tanah. Tanah yang menutupi batuan dasar membuat lingkungan sekitar batuan menjadi lembab, yang kemudian mempercepat proses disintegrasi batuan.
Granit. contoh yang abgus dalam pembentukan pasir
Granit. (ucl.ac.uk)
Granit adalah jenis batuan yang umum dan merupakan contoh yang bagus dari proses pembentukan pasir. Granit sebelum melapuk, terdiri dari mineral-mineral berikut:
  • Sodium Plagioclase feldspar (Na feldspar)
  • Potassium feldspar (K feldspar)
  • Kuarsa
  • Mineral aksesori: biotite, amphibole, atau muskovit
Apa yang terjadi jika granit melapuk?
  • Na feldspar dan K feldspar mengalami proses hidrolisis untuk membentuk mineral lempung kaolin, serta ion-ion Na+ dan K+.
  • Biotit dan / atau amphibole mengalami proses hidrolisis dan oksidasi, membentuk mineral lempung dan oksida besi.
  • Kuarsa (dan muskovit jika ada) menjadi mineral residual, karena resisten terhadap pelapukan.
  • Fragmen batuan yang lapuk kemudian menjadi bagian dari unsur tanah.
Setelah itu?
  • Butiran mineral kuarsa kemudian tererosi dan menjadi bagian sedimen pasir, diangkut oleh arus sungai atau angin untuk kemudian diendapkan membentuk sand dune, channel bar, point bar dan sandy beach.
  • Lempung akhirnya tererosi dan menjadi muatan suspensi dalam arus air sungai, sampai kemudian terendapkan di lingkungan arus yang tenang.
  • Ion-ion terlarut akan diangkut oleh sungai, sampai akhirnya akan menjadi bagian dari larutan garam di lingkungan air laut.
Komposisi Pasir

Pasir merupakan kompulan material residual dari yang sudah ada sebelum pelapukan batuan terjadi. Namun, ada satu aspek penting - pasir terbentuk di lingkungan yang keras, di mana hanya yang terkuat yang bisa bertahan. "Terkuat" adalah yang paling tahan terhadap proses pelapukan. (baca: pasir terbentuk dari apa?)

Kuarsa adalah salah satu mineral dari daftar mineral penyusun pasir yang umum ditemukan pada sampel pasir. Kuarsa menghuni 12% dari kerak bumi. Hanya saja feldspar lebih banyak daripada kuarsa, menghuni lebih dari 50% kerak bumi.

Pasir Kuarsa - Quartz Sand
Pasir Kuarsa. (buschgeotech.com)
Mineral-mineral yang relatif jarang seperti turmalin, zirkon, rutil, dll, juga sangat resisten terhadap pelapukan, namun jarang ditemukan dalam jumlah banyak dalam komposisi pasir. Mineral-mineral tersebut secara umum disebut sebagai heavy minerals (mineral berat).

Mineral berat ini kadang terkonsentrasi dalam jumlah yang banyak sebagai komponen penyusun pasir. Hal tersebut biasanya diakibatkan oleh proses penyortiran hidrodinamik. Baik itu gelombang laut atau aliran sungai yang menyortir butiran yang lebih berat dan membawa butiran lainnya yang lebih ringan. Endapan yang dihasilkan dari proses ini dikenal sebagai placers. Mineral-mineral yang sering diekstrak dari endapan placer adalah emas, kasiterit, ilmenit, monasit, magnetit, zirkon, rutil, dll.

Bijih kasiterit
Kasiterit. (geology.com)
Mineral-mineral pembentuk batuan lainnya seperti amphibole dan mika juga sering ditemukan di dalam sampel pasir, meskipun hanya dalam jumlah sedikit. Kelompok mineral ini termasuk yang tidak tahan terhadap pelapukan, contohnya seperti olivin dan piroksen.

Namun, ada beberapa pantai yang sebagian besar terdiri dari piroksen dan olivine dengan sedikit campuran magnetit, sering disebut sebagai black sand (pasir hitam). Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Pasir pantai seperti ini biasanya terdapat di daerah vulkanik aktif. Piroksen dan olivin merupakan mineral yang umum sebagai penyusun batuan mafik, seperti basalt. Pasir hitam adalah fenomena khas dari kepulauan vulkanik samudra, di mana granit dan batuan felsik lainnya tidak ditemukan.

Kebanyakan dari sampel pasir, butiran pasir terdiri dari mineral-mineral tunggal. Namun terkadang pasir juga mengandung fragmen batuan (fragmen litik). Granit biasanya terdisintegrasi menjadi butiran mineral yang berbeda-beda, tapi filit dan basal cenderung hadir sebagai fragmen litik dalam komponen pasir. Hal tersebut terjadi karena filit dan basal adalah batuan yang bertekstur halus. Fragmen litik ini sering terbentuk di daerah-daerah di mana erosi terjadi sangat cepat, contohnya di daerah pegunungan.

Terkadang pasir juga mengandung mineral baru atau agregat mineral yang tidak terbentuk dari proses pembekuan magma. Contoh penting adalah mineral lempung glauconite yang terbentuk dalam endapan pasir di lingkungan laut, menghasilkan jenis batuan yang disebut glauconitic sandstone. Keberadaan mineral ini memberi warna hijau gelap yang khas untuk kebanyakan sampel pasir.

Ada banyak contoh pasir aneh lainnya yang membutuhkan kondisi pembentukan khusus. Salah satu contoh yang baik adalah pasir di New Mexico yang terdiri dari gipsum murni. Pasir dengan komposisi seperti ini cukup aneh dan jarang, karena gipsum merupakan mineral evaporit. Mineral seperti ini hanya dapat bertahan dalam kondisi kering. Halit, yang bahkan lebih mudah larut dari gipsum, juga dikenal sebagai komponen pembentuk pasir dalam kondisi tertentu.

Debu vulkanik biasanya dipelajari secara terpisah, tidak diaktegorikan sebagai jenis pasir. Mungkin karena kita manusia cenderung menciptakan hambatan buatan dan prinsip-prinsip klasifikasi. Sedimen dan piroklastik adalah dua dunia yang berbeda. Pada kenyataannya, hal ini menjadi lebih rumit karena selalu saja ada alasan untuk mengatakan bahwa butiran debu vulkanik (dan material piroklastik lainnya seperti lapili dan bom) juga merupakan jenis sedimen, karena mereka terendapkan di permukaan tanah melalui proses yang tidak jauh berbeda dari proses endapan pasir di sungai, pantai, atau pun gurun. Debu vulkanik dan pasir bahkan memiliki prinsip-prinsip klasifikasi yang sebanding. Debu vulkanik adalah sedimen piroklastik dengan ukuran butir rata-rata kurang dari 2 milimeter. Oleh karena itu, debu vulkanik juga bisa dianalogikan sebagai pasir atau lempung.

Jenis pasir berikutnya adalah pasir biogenik. Pasir biogenik terdiri dari fragmen eksoskeleton dari organisme laut. Kontributor umum dari komponen jenis ini adalah koral, foraminifera, landak laut, sponge, moluska, ganggang, dll. Jenis pasir seperti ini biasanya dikenal sebagai pasir koral, meskipun dalam banyak kasus pasir tersebut tidak mengandung fragmen koral sama sekali. Pasir biogenik biasanya berwarna terang dan tersebar luas di daerah dekat katulistiwa. Koral biasanya hanya hidup di lingkungan air hangat, tetapi ada juga beberapa taxons lain yang dapat hidup dengan baik di lingkungan yang lebih dingin. Pasir biogenik karbonatan juga berkontribusi dalam pembentukan batugamping.

Pasir bioklastik
Pasir bioklastik. (buschgeotech.com)
Terkadang pasir mengandung beberapa atau seluruhnya terdiri dari butiran karbonat yang bukan berasal dari fragmen organisme laut yang mati. Butiran karbonat ini disebut sebagai ooid. Pasir juga tidak sepenuhnya terdiri dari mineral-mineral tunggal, litik, atau pun biogenik. Dalam banyak kasus, dua di antaranya, atau bahkan ketiganya tercampur dalam satu sampel sedimen pasir.

Tekstur dan Transportasi Sedimen Pasir

Ahli geologi mendeskripsikan pasir dengan mengukur kebundaran dan distribusi ukuran butirnya. Dengan melakukan itu mereka dapat mendapatkan informasi tentang asal-usul pasir tersebut. Kebundaran biasanya memberikan informasi tentang seberapa jauh rute transportasi sedimen, dan distribusi ukuran butir membantu ahli geologi untuk menentukan dari lingkungan mana sedimen tersebut diendapkan. Pasir sungai biasanya terpilah buruk, sedangkan pasir pantai atau gurun lebih bulat dan terpilah baik.

Graded Bedding
Kuat arus berperan dalam sortasi ukuran butir. (arlimillerphoto.com)
Ukuran rata-rata butiran pasir ditentukan oleh energi dari media transport. Semakin kuat kecepatan arus (baik itu arus sungai atau gelombang laut) maka semakin mungkin arus tersebut membawa material yang lebih berat / besar.

Pada umumnya media transport pasir adalah arus sungai. Butiran pasir cenderung bergerak melompat-lompat terhadap rata-rata kecepatan arus sungai. Mode gerakan ini dikenal sebagai saltation. Sedangkan lanau, material sedimen yang jauh lebih ringan dari pasir, cenderung bergerak melayang-layang terhadap rata-rata kecepatan arus sungai. Gerakan ini disebut suspended load.

Dataran banjir - channel bar dan point bar Sungai Bone, Gorontalo
Dataran banjir, channel bar dan point bar di Sungai Bone, Gorontalo. (google map)
Butiran sedimen pasir yang diangkut oleh sungai-sungai pada akhirnya diendapkan di mulut sungai, di mana kecepatan arus tiba-tiba menurun. Kemudian, gelombang laut (longshore currents) mengambil alih dan membawa sedimen pasir ke sepanjang garis pantai. Butiran sedimen pasir yang dibawa oleh sungai-sungai juga diendapkan pada flood plain, channel bar maupun point bar.
***
  • Pettijohn, F. J., Potter, P. E. and Siever, R. 1973. Sand and Sandstone. Springer
  • Siever, R. 1988. Sand, 2nd Edition. W H Freeman & Co.

SM-IAGI UNG

{picture#https://pbs.twimg.com/profile_images/497585628695891970/5H6NQcSq.jpeg} SM-IAGI UNG | Seksi Mahasiswa - Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Negeri Gorontalo | Ekstraksi - Konservasi - Mitigasi {facebook#http://www.facebook.com/smiagiung} {twitter#http://twitter.com/smiagiung} {google#http://plus.google.com/+SMIAGIUNG} {pinterest#http://www.pinterest.com/smiagi} {youtube#http://www.youtube.com/channel/UC6ajXFGGmFmwwt-fsxNqsigL} {instagram#http://instagram.com/smiagiung}
Powered by Blogger.