Showing posts with label Tektonik. Show all posts

  Siklus Wilson : Siklus yang sangat erat kaitannya dengan teori Tektonik Lempeng.

  Kita tau teori tektonik lempeng memperkenalkan mengenai lempengan bumi yang terpecah saling bergerak mendekat membentuk pegunungan dan menjauh membentuk lantai samudera. Nah menurut si bapak J. Tuzo Wilson, seorangahli geologi asal Kanada, bahwa akan terjadi suatu siklus tektonik dimana suatu continental akan terpecah membentuk suatu cekungan samudera, kemudian cekungan itu lambat laun akan menghilang dan akhirnya membentuk satu continental utuh lagi seperti semula. Siklus itulah yang dinamakan Siklus Wilson.



Belajar Asal Mula Teori Tektonik Lempeng - SM IAGI UNG

Pegunungan Himalaya sering disebut-sebut sebagai “roof of the world” (atap bumi), karena memiliki puncak-puncak tinggi di bumi, salah satunya adalah Everest – 8.850 meter di atas permukaan laut. Puncak gunung ini ditempati oleh batugamping, tipe batuan yang terbentuk di perairan hangat laut dangkal dan pada umumnya tersusun dari sisa-sisa organisme laut, seperti; plankton, terumbu dan ikan.
Bertahun-tahun ahli geologi mencoba mencari tahu, bagaimana bisa organisme laut berada di puncak pegunungan?
Di tahun 1900-an, banyak ilmuan percaya bahwa setelah bumi terbentuk, permukaan bumi mengalami pengerutan. Teori pengerutan ini secara bebas diusulkan oleh dua ilmuan terdahulu di akhir 1800-an dan awal 1900-an, mengimplikasikan bahwa deretan pegunungan seperti Himalaya terbentuk dari proses tersebut. Teori ini mengasumsikan; semua bentuk permukaan bumi dihasilkan oleh satu proses pendingan magma dan kemudian mengerut selama lebih dari 1 juta tahun.

Wegener – “Continental Drift”

Pergerakan Benua dari waktu ke waktu - Wegner 1924
Pergerakan Benua dari waktu ke waktu.
(Wegener, 1924)
Alfred Wegener, seorang ahli geofisika dan meteorologi dari Jerman, tidak puas dengan penjelasan teori pengerutan itu. Ia mengeluarkan ide bahwa benua Afrika dan Amerika Selatan saling bercocokan satu sama lain seperti potongan puzzle. Berdasarkan pengukuran data paleoklimatik dari sisi-sisi benua yang mengelilingi Samudera Atlantik, ia menemukan lapisan batubara yang terbentuk di daerah tropis, membentang dari Amerika Utara – Eropa dan Asia, ketiga benua tersebut jauh di bagian utara dari daerah-daerah tropis moderen. Ia juga menemukan bukti bahwa lapisan es pernah berkembang di Afrika Selatan dan India. Suatu fenomena yang tidak mungkin dijelaskan berdasarkan tatanan benua-benua saat ini.

Wegener mengajukan teori pergeseran benua dalam bukunya yang berjudul “The Origins of the Continents and the Oceans”, diterbitkan di Jerman pada tahu 1915 dan di Inggris pada tahun 1924. Teorinya menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 300-360 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang di sebut Pangea. (lihat animasinya)

Apa yang menyebabkan benua bergerak?

Ketika buku Wegener diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, dan Rusia pada tahun 1924, banyak orang yang mencemooh teori tersebut. Salah satu masalah utama adalah ia tidak mencantumkan mekanisme dorongan dalam teori pergerakan benua.
Gaya apa yang menggerakkan benua? Dari mana asalnya? Berapa besar gaya yang dibutuhkan untuk memindahkan sebuah benua?
Barulah pada 1960-an, mekanisme dorongan yang merupakan kunci penting untuk teori pergerakan bunua, mulai terjawabkan. Wegener telah membuat peryataan berdasarkan data-data yang diambil dari benua, saat itu ia tidak menyadari bahwa ada daerah yang luas tersembunyi berkilo-kilometer di bawah lautan yang menutupi hampir 70% permukaan bumi. Perang Dunia I dan II membawa perkembangan teknis dan ilmiah yang memungkinkan ilmuan untuk memetakan dasar samudera dan mengukur kemagnetan batuannya secara detil. Kedua data tersebut mulai dikembangkan untuk memperkuat teori pergerakan benua.

Memetakan lantai samudera

Sebelum 1920-an, bentuk dasar samudera dianggap datar dan tidak memiliki ciri khusus. Namun, Selama Perang Dunia I, kapal-kapal yang dilengkapi sonar mulai menghasilkan data tentang topografi dasar samudera. Berdasarkan peta sonar ini para ilmuan mulai menyadari bahwa dasar samudera ternyata bukan hanya datar tapi juga memiliki lembah dan pegunungan.

Yang paling mengejutkan para ilmuan adalah penemuan deretan punggungan di sepanjang pertengahan samudera Atlantik, punggungan ini memiliki tinggi 1 – 2 km dari dasar laut di sekitarnya dan parallel dengan pantai di kedua sisinya. Punggungan serupa, yang di sebut “mid-ocean ridges” (pematang tengah samudera) oleh penemu mereka, juga ditemukan di bagian timur Samudera Pasifik dan bagian barat Samudera Hindia.
Berdasarkan fakta bahwa punggungan ini parallel dengan tepian benua di kedua sisinya, para ilmuan mengaitkannya dengan teori pergerakan benua, tapi apa?
Harry Hess – Geologist di Princeton University, melalui makalahnya yang diterbitkan tahun 1962 berjudul “History of Ocean Basins”, mengusulkan bahwa punggungan dasar samudera itu menandakan daerah dimana magma naik ke permukaan. Ekstrusi magma tersebut mendorong dasar samudera menjauh dari punggungan seperti conveyor belt. Sementara, palung-palung yang ditemukan di lepas pantai Amerika Selatan dan Jepang, merupakan wilayah dimana dasar samudera didorong masuk ke bawah benua yang tebal, Hess menyebutnya sebagai zona subduksi. Teori “seafloor spreading” yang diusulkan Hess menyimpulkan mekanisme dorongan untuk memperkuat teori Wegener, akan tetapi masih membutuhkan banyak bukti.

Mid Ocean Ridge (internet)
Pematang tengah samudera dan zona subduksi. (internet)
Kemagnetan batuan dasar samudera

Pada tahun yang sama saat Hess mengajukan teorinya, Angkatan Laut Amerika Serikat menerbitkan sebuah laporan yang berisi tentang temuan mengenai kemagnetan batuan dasar lsamudera. Selama Perang Dunia II, kapal-kapal menggunakan magnetometer untuk mecari kapal selam. Magnetometer digunakan setiap kali saat kapal melakukan perjalanan bolak-balik melintasi Atlantik dan Pasifik, dan mereka menemukan lebih dari sekedar kapal selam.
Ketika para ilmuan Angkatan Laut memeriksa data, mereka menemukan grafik yang menunjukan anomali pergantian kemagnetan kuat dan lemah pada batuan dasar samudera.
Data kemagnetan dihasilkan dari kehadiran mineral-mineral magnetik pada batuan, contohnya; mineral magnetit, yang umum terdapat pada batuan basalt sebagai penyusun batuan dasar samudera. Ketika magma mulai membeku, mineral magnetit akan searah dengan medan magnet bumi seperti yang terjadi pada jarum kompas.

Strip magnetic anomalies
Contoh gambar yang menunjukan anomali kemagnetan yang simetris
pada pematang tengah samudera. (homepage.smc.edu) - gambar lain
Kehadiran medan magnet bumi sudah diketahi sejak dahulu kala, tapi baru setelah Perang Dunia II para ilmuan menyadari bahwa polaritas medan bumi tidak selalu tetap. Saat ini kita berada pada polaritas normal, dimana jarum kompas akan mengarah ke utara. Tetapi pada suatu waktu tertentu di periode sebelumnya, polaritas pernah terbalik, yang berarti jarum kompas akan mengarah ke selatan. Fenomena pembalikan medan magnet sebelumnya sudah pernah ditemukan pada batuan kontinen, kasusnya sama dengan yang ditemukan pada batuan lantai samudera. Pembalikan paleomagnetik bumi yang terekam pada basalt, merupakan bukti bahwa medan magnet bumi pernah beberapa kali mengalami pembalikan sepanjang sejarah geologi.

Bukti pemekaran lantai samudera

Pada 1963, Fred Vine dan Drummond Matthews, ahli geologi Inggris, bergabung dalam kegiatan pemetaan topografi pematang tengah samudera Atlantik, mereka menemukan pola simetrik pada grafik pengukuran kemagnetan batuan dasar samudera. Ketika kapal Angkatan Laut Amerika merekam kemagnetan yang kuat, batuan menunjukan polaritas normal; dan ketikan kapal merekam kemagnetan yang lemah, batuan menunjukan polaritas terbalik.
Grafik yang dihasilkan tidak hanya paralel dengan pematang tengah samudera, namun juga berpola simetris.
Pola simetris tersebut menyimpulkan bahwa magma telah naik ke permukaan dan membeku mengunci medan magnet pada saat itu, kemudian didorong menjauh dari punggungan ke arah yang berlawanan. Catatan pembalikan paleomagnetik ini terekam sepanjang regenerasi kerak baru dari waktu ke waktu, sekaligus memberikan bukti yang diperlukan untuk teori pemekaran lantai samudera yang diusulkan oleh Hess.

Karya Hess, Vine, dan Matthews menghasilkan peta bumi yang baru, dengan adanya penambahan fitur dasar laut, diantaranya adalah pemekaran lantai samudera dan zona subduksi.
Peta Batas Lempeng Tektonik - usgs
Garis merah menunjukan pematang tengah samudera. Garis kuning menunjukan zona subduksi.
Sedangkan garis biru bukan termasuk keduanya. (USGS)
Keberlanjutan bukti teori Tektonik Lempeng

Saat ini, banyak bukti-bukti tentang tektonik lempeng yang diakuisisi dengan teknologi satelit. Melalui penggunaan Global Positioning System (GPS) dan teknik pengumpulan data berbasis satelit lainnya, para ilmuwan dapat langsung mengukur velocity (kecepatan dan arah gerakan) dari lempeng di permukaan bumi.

Himalaya, ternyata, mulai terbentuk sekitar 50 juta tahun yang lalu ketika Lempeng India bertabrakan dengan Lempeng Eurasia, mengangkat dan melipat batuan yang terbentuk di bawah permukaan laut ke puncak gunung. Karena Lempeng India sampai sekarang masih bergerak ke utara, maka Himalaya masih terus terangkat dengan laju sekitar 1 cm per tahun.
Kita tidak perlu lagi menggunakan teori pengerutan bumi untuk menjelaskan keberadaan fosil laut di puncak Himalaya; yang ternyata itu merupakan proses tektonik lempeng.
Bumi sangat dinamis – rantai pegunungan terbentuk dan kemudian tererosi, sebuah gunung berapi erupsi dan kemudian punah, muka air laut naik dan kemudian surut, perubahan-perubahan ini semua adalah hasil dari proses tektonik lempeng. Teori pergerakan benua yang diusulkan oleh Wegener merupakan langkah awal dalam pengembangan teori tektonik lempeng, yang kemudian menjadi fondasi dalam pengembangan konsep-konsep geologi moderen.
---
Compiled by @EFBumi

Referensi:
  • Hess, H. H., 1962, "History Of Ocean Basins". In Petrologic Studies: A volume in honor of A.F. Buddington. Geological Society of America, p. 599-620.
  • Vine, F. J., and Matthews, D. H., 1963. "Magnetic Anomalies Over Oceanic Ridges". Nature, v. 199, no. 4897, p. 947-949.
  • Wegener, A., 1924. "The origin of Continents and Oceans" (Entstehung der Kontinente und Ozeane). Methuen & co.

Gunung Sinabung di Indonesia pernah dianggap sebagai gunung api dorman (tidur) selama lebih dari 400 tahun, sampai akhirnya erupsi dalam jangka waktu satu bulan pada tahun 2010. Kemudian erupsi lagi pada 15 September 2013, hingga sampai sekarang masih menunjukan aktivitas vulkanik.

Memahami mengapa sebuah gunung api bangkit dari status dorman bukanlah tugas mudah bagi para ilmuan, tetapi sebuah makalah yang diterbitkan tahun lalu dalam Solid Earth menunjukan bahwa beberapa gempa mega-thrust yang terjadi di Sumatra baru-baru ini memicu erupsi Sinabung.

Peta lokasi titik-titik gempa mega-thrust di wilayah Sumatra
Peta lokasi gempa megathrust Sumatra.
(Californis Institute of Technology)
Gunung Sinabung adalah salah satu dari beberapa gunung api yang terletak di sepanjang zona subduksi Sumatra di Samudera Hindia. Daerah ini merupakan bagian dari The Ring of Fire, sangat aktif secara geologis. Kaldera Danau Toba yang berjarak sekitar 40 km dibagian tenggara Gunung Sinabung, adalah situs yang diketahui sebagai hasil erupsi supervolcanic terakhir di Bumi sekitar 75.000 tahun yang lalu.

Matteo Lupi dan Stephen Miller, penulis makalah dalam Solid Earth mengatakan, tiga gempa besar yang terjadi di wilayah ini selama tahun 2005 dan 2007 mungkin telah memicu aktivitas vulkanik Gunung Sinabung. Gempa-gempa ini meliputi; M8,6 2005, M7,9 dan M8,4 2007. Gempa dahsyat M9,2 yang melanda Indonesia pada bulan Desember 2004 kemungkinan tidak terlibat, karena gempa ini terjadi di wilayah sebelah utara busur vulkanik.



Peta lokasi jajaran gunung api terkait dengan Tunjaman Sumatra
Peta: jajaran gunung api yang terkait
dengan Sumatra Trench. (wikipedia)
Berdasarkan dalil-dalil geomekanik, geologi dan geofisika, kedua peneliti tersebut menyimpulkan bahwa gempa-gempa subduksi besar dapat mengaktifkan busur vulkanik karena mengubah jenis dan jumlah tektonik stres bawah permukaan. Sedangkan tekanan kompresi yang dirilis setelah terjadi gempa subduksi, dapat mengakibatkan gerakan strike-slip dan jenis-jenis stres tektonik lainnya. Gerakan tersebut, pada akhirnya dapat membuka saluran baru untuk aliran magma dan meningkatkan permeabilitas sistem vulkanik keseluruhan. Hal ini juga dapat menyebabkan perubahan tekanan pori yang membuat magma lebih cenderung untuk erupsi.

Fonomena semacam ini juga telah teramati setelah kejadian gempa besar di wilayah lain di dunia, seperti Chili dan Jepang.

Yang terpenting lagi, para ilmuwan mencatat bahwa gagasan gempa besar dapat memicu erupsi gunung api bukanlah hal yang baru. Charles Darwin sebenarnya pernah mendokumentasikan peningkatan aktivitas vulkanik di Chile setelah kejadian gempa M8,5 tahun 1835, yang kemudian temuan ini ia terbitkan di tahun 1840.
------
Compiled by  @EFBumi

Jurnal terkait:

Jalan-jalan ke Himalaya
Daerah kawasan Himalaya (aito.com)
Lebih dari sekitar 140 juta tahun yang lalu, India merupakan bagian dari superbenua besar yang disebut Gondwana, yang menutupi sebagian besar belahan bumi bagian selatan. Sekitar 120 juta tahun yang lalu, India memisahkan diri dan mulai perlahan-lahan bergerak sekitar 5 cm per tahun ke arah utara. Kemudian, sekitar 80 juta tahun yang lalu, kecepatan pergerakan benua tersebut tiba-tiba dipercepat menjadi 15 cm per tahun - dua kali lebih cepat dari rata-rata pergerakan tektonik modern. Pada akhirnya India bertabrakan dengan Eurasia sekitar 50 juta tahun yang lalu, dan terbentuklah Himalaya.

Himalaya Formation - Pembentukan Himalaya
Pembentukan Himalaya
(Creative Commons)
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah berusaha untuk menjelaskan bagaimana India bisa bergerak ke utara begitu cepat. Para ahli geologi dari MIT telah menemukan jawaban baru: India ditarik ke arah utara oleh kombinasi dari dua zona subduksi. Ketika suatu lempeng menunjam, lempeng tersebut menarik serta daratan yang terhubung dengannya. Mereka menganggap bahwa dua penunjaman lempeng tersebut menyebabkan dua kali kekuatan tarik, yang menggandakan kecepatan pergerakan India.

Berdasarkan data sampel dan penanggalan umur batuan dari wilayah Himalaya, mereka kemudian mengembangkan model untuk subduksi ganda. dan menetapkan bahwa kecepatan pergerakan purba lempeng India bergantung pada dua faktor dalam satu sistem; lebar lempeng subduksi, dan jarak antara dua lempeng subduksi. Dengan menggabungkan data-data pengukuran ke dalam model baru tersebut, mereka menemukan bahwa sistem subduksi ganda mungkin memang telah mambawa India bergerak dengan cepat ke arah Eurasia sekitar 80 juta tahun yang lalu.



Motor Penggerak

Berdasarkan catatan geologi, India bergerak melalui Samudra Tethys yang memisahkan Gondwana dari Eurasia. Pada awalnya India bergerak dengan kecepatan biasa-biasa saja - 5 cm per tahun, dan kemudian tiba-tiba melesat hingga 15 cm per tahun. Kecepatan tersebut bertahan selama 30 juta tahun sebelum akhirnya bertabrakan dengan Eurasia.

Pada tahun 2011, para ilmuwan percaya bahwa mereka telah mengidentifikasi motor penggerak di balik pergerakan cepat lempeng India: sebuah plume magma. Menurut hipotesis mereka, plume tersebut menghasilkan jet vulkanik di bawah lempeng India, sehingga membuat India dapat bergerak dengan cepat.

Namun, ketika peneliti lain memodelkan skenario tersebut, mereka menemukan bahwa setiap aktivitas gunung api akan berlangsung paling tidak selama 5 juta tahun - waktu tersebut tidak cukup untuk menjelaskan 30 juta tahun pergerakan cepat lempeng India.

Squeezing dan Percepatan

Pada tahun 2013, peneliti MIT melakukan pengukuran paleomagnetik di Himalaya untuk menentukan di mana awalnya batuan terbentuk. Dari data tersebut, mereka menyimpulkan bahwa sekitar 80 juta tahun yang lalu, busur gunung api terbentuk di dekat khatulistiwa, pada waktu itu khatulistiwa berada di tengah-tengah Samudra Tethys.

Sebuah busur vulkanik pada umumnya identik dengan adanya zona subduksi, ilmuan MIT mengidentifikasi adanya busur vulkanik kedua di bagian selatan dari busur vulkanik pertama, dekat dengan lokasi di mana India pertama kali mulai melepaskan diri dari Gondwana. Data menunjukkan bahwa mungkin ada dua lempeng yang mensubduksi: lempeng samudera bagian Utara, dan lempeng bagian selatan (lempeng India).

Peneliti MIT mengembangkan model subduksi ganda yang melibatkan lempeng bagian utara dan selatan. Mereka menghitung seberapa cepat pergerakan yang disebabkan oleh penunjaman dua lempeng tersebut. Ketika lempeng menunjam, batuan yang ada di tepian pertemuan lempeng mengalami "squeezing". Semakin banyak batuan yang ter-squeeze, semakin cepat lempeng bergerak.

Data-data pengukuran dari Himalaya menunjukkan bahwa dimensi lempeng samudera bagian utara mencakup hampir sepertiga dari lingkar bumi. Namun, lempeng bagian selatan yang membawa India mengalami perubahan radikal: Sekitar 80 juta tahun yang lalu, tabrakan antara India dan Afrika memotong lempeng India menjadi sekitar 3.000 km - tepat di saat pergerakan India mulai dipercepat.

Berdasarkan dimensi lempeng, para peneliti MIT menghitung bahwa pergerakan lempeng India dipercepat mulai dari 5 ~ 15 cm per tahun. Sementara hasil perhitungan tersebut hampir sama dengan perhitungan yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, ini merupakan bukti pertama kali bahwa subduksi ganda bertindak sebagai motor penggerak benua.

Model percepatan lempeng India melibatkan dua tunjaman
Model percepatan lempeng India melibatkan dua tunjaman.
(Diadaptasi dari Jagoutz, O., Royden, L., Holt, A. F., Becker, T. W. 2015)
---
Sumber: Massachusetts Institute of Technology

Jurnal terkait:

SULAWESI: PULAU TERBALIK (?)
Seluruh isi dari tulisan ini merupakan repost dan sudah mendapatkan izin dari owner-nya.

SM IAGI UNG - Geologi Sulawesi - Sukamto 1990Dalam skala pulau, Sulawesi adalah contoh terbaik di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, bagaimana fenomena collision dan post-collision tectonic escape terjadi.
---
Sulawesi adalah salah satu pulau dengan bentuk paling ganjil di dunia, orang sering menyebutnya dengan pulau berbentuk huruf “K”. Pulau ini umum juga disebut sebagai disusun oleh empat lengan (arm): lengan selatan, lengan utara, lengan timur, dan lengan tenggara. Di Lengan Selatan ada kota besarnya, Makassar. Di Lengan Utara ada Manado, di Lengan Timur ada Luwuk, dan di Lengan Tenggara ada Kendari. Yang menambah keganjilannya lagi adalah bahwa di sebelah timur Sulawesi ada dua kepulauan yang seperti menabrak Sulawesi dari sebelah timur, yaitu Kepulauan Banggai-Sula yang menabrak Lengan Timur Sulawesi, dan Kepulauan Buton-Tukang Besi yang menabrak Lengan Tenggara Sulawesi.
Keganjilan bentuk pulau Sulawesi ini telah menarik perhatian para ahli biogeografi seperti Alfred Russel Wallace, juga kemudian banyak ahli geologi. Penyelidikan fauna yang dilakukan Wallace di Sulawesi pada 1857 menemukan bahwa fauna-fauna di Sulawesi sangat bervariasi, ada yang sebagian mirip dengan fauna-fauna Asia/Oriental, ada yang sebagian mirip dengan fauna-fauna Australia, dan ada fauna-fauna yang seolah bentuknya transisi dan menjadi khas (endemic) untuk Sulawesi saja tak ditemukan di tempat lain. Walace pun pada saat itu sudah punya kecurigaan bahwa variasi fauna di Sulawesi ini akibat geologi Sulawesi, seperti ditulisnya di sebuah jurnal:
“Facts such as these can only be explained by a bold acceptance of vast changes in the surface of the earth. The great Pacific continent, of which Australia and New Guinea are no doubt fragments, probably existed at a much earlier period, and extended as far westward as the Moluccas. The extension of Asia as far to the south and east as the Straits of Macassar and Lombock must have occurred subsequent to the submergence of both these great southern continents.” (On the Zoological Geography of the Malay Archipelago - Alfred Russel Wallace, 1859)
Kecurigaan Wallace itu kemudian terbukti secara geologi ketika Sulawesi dianalisis menggunakan teori tektonik lempeng (analisis tektonik lempeng Sulawesi dipelori oleh Sukamto, 1975) bahwa Sulawesi merupakan pulau yang dibangun oleh benturan antara massa dari Sundaland (Indonesia Barat) dan massa dari Australia dan massa samudera yang semula terletak di antara Sundaland dan Australia sebelum keduanya berbenturan. Secara sederhana, bisa disebut bahwa Sulawesi Barat (termasuk Sulawesi Selatan) adalah bagian Sundaland yang berpindah ke timur menempati posisinya sekarang sejak sekitar 50 juta tahun lalu dengan terbukanya Selat Makassar, Sulawesi Utara merupakan busur kepulauan yang terjadi di tempat sejak 50 juta tahun lalu juga, Sulawesi Tengah-Sulawesi Timur-Sulawesi Tenggara merupakan wilayah benturan yang disusun oleh batuan samudera dan batuan metamorf hasil subduksi dan benturan yang sangat rumit yang terjadi antara 30-5 juta tahun yang lalu. Dan Kepulauan Banggai-Sula serta Buton-Tukang Besi benar-benar merupakan mikrokontinen (benua kecil) asal Australia yang menubruk Sulawesi Timur diperkirakan antara 15-5 juta tahun yang lalu.
Geologi Sulawesi menurut kemajuan penelitian-penelitian sekarang bahkan jauh lebih kompleks lagi bila dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian pada 5-15 tahun yang lalu. Sekarang di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat diyakini ada mikrokontinen pra-Tersier yang menyusup, Teluk Bone yang sangat dalam dan terbuka dengan cara Selat Makassar terbuka, juga ada Teluk Tomini/Cekungan Gorontalo yang penuh enigma, teka-teki, dan kemungkinan juga menyimpan mikrokontinen seperti di Sulawesi Barat asal Australia. Beberapa makalah di jurnal-jurnal maupun di pertemuan-pertemuan ilmiah pernah dipublikasikan untuk menginformasikannya. Saya sendiri pernah menuliskannya beberapa kali, misalnya: Satyana et al. (2011: Tectonic Evolution of Sulawesi Area: Implications for Proven and Prospective Petroleum Plays – pertemuan ilmiah IAGI & HAGI, Makassar, September 2011) dan Satyana (2014: New Consideration on the Cretaceous Subduction Zones of Ciletuh-Luk Ulo-Bayat-Meratus: Implications for Southeast Sundaland Petroleum Geology, annual convention Indonesian Petroleum Association May 2014).
---
Bahwa Pulau Sulawesi masa kini adalah pulau yang telah terbalik pernah diduga oleh beberapa peneliti meskipun saya tak menemukan publikasinya. Masalah ini lalu saya teliti secara pribadi dan publikasikan di simposium internasional yang disebut Jakarta 2006 Geoscience Conferences and Exhibition (diselenggarakan oleh organisasi-organisasi profesi kebumian di Indonesia dan beberapa organisasi profesi internasional) dengan menampilkan makalah berjudul “Docking and Post-Docking Tectonic Escapes of Eastern Sulawesi : Collisional Convergence and Their Implications to Petroleum Habitat” (Satyana, 2006).
Inti makalah ini adalah bahwa Pulau Sulawesi yang sekarang seperti dua busur pulau sejajar barat dan timur serta arahnya cekung ke timur itu, sebenarnya kedua busur itu dulu cembung ke arah timur, atau cekung ke arah barat. Maka bila ia kini cekung ke arah timur berarti pulau ini sudah terbalik, yaitu arah, atau polaritas busur-busurnya sudah terbalik. Bagaimana bisa? Saya menerangkannya sesuai dengan judul makalah: oleh mekanisme docking dan post-docking tectonic escape.
SM IAGI UNG - Post-docking structures of Sulawesi represent model of escape tectonics - Satyana 2006DOCKING & POST-DOCKING TECTONIC ESCAPE, docking artinya menempel dan membentur, post-docking artinya setelah benturan, tectonic escape artinya “pelarian tektonik” yaitu gejala tektonik berupa berpindahnya massa kerak Bumi menjauhi pusat docking atau benturan melalui sesar-sesar/patahan mendatar yang besar atau melalui retakan kerak Bumi yang bersifat ekstensional, membuka. Maka “docking and post-docking tectonic escape” artinya gejala benturan dan gejala bergerak/ berpindahnya/ tersesarkannya massa kerak Bumi sesudah benturan terjadi.
Tectonic escape suka disebut juga Extrusion Tectonics (artinya mirip yaitu gerak ke luar, menjauh, ekstrusi, suatu segmen kerak Bumi menjauhi pusat benturan) dipelopori oleh beberapa ahli tektonik dari Prancis, Amerika, dan Turki: Tapponier, Molnar, Burke, Sengor. Mereka melihat gejala-gejala geologi regional di banyak tempat di seluruh dunia dan menemukan bahwa di sekitar area benturan biasanya ada segmen-segmen kerak Bumi yang bergerak menjauhinya sebagai bagian kompensasi tektonik, atau aksi-reaksi. Aksi adalah benturan/collision/docking, reaksi adalah post-collision tectonic escape/extrusion tectonics.
Saya membawa model-model geometri dan eksperimen-eksperimen para pelopor tectonic escape itu ke Sulawesi dan menemukan bahwa pembalikan busur-busur Sulawesi itu adalah gejala “post-collision tectonic escape”. Saya menggambarkan itu dalam kartun-kartun yang bisa dilihat di lampiran tulisan ini.
Beginilah kira-kira pembalikan itu terjadi.
SM IAGI UNG - Sulawesi - reversed arc curvature - Satyana 20061. 70-50 juta tahun yl (Ma) Pada awalnya, hanya ada Sulawesi Barat yang masih menjadi bagian Sundaland, dan tambahan massa kerak Bumi di sebelah timurnya. Sulawesi Barat kala itu adalah sebuah busur kepulauan/busur magmatic-volkanik hasil subduksi kerak samudera terhadapnya, busur kepulauan ini disertai juga jalur mélange dan ofiolit sebagai jalur subduksi. Pasangan jalur busur kepulauan/magmatic-volkanik dan jalur subduksi adalah hal biasa dalam tektonik lempeng, dan kita memiliki pasangan yang sama di Sumatra, Jawa, Kalimantan juga diseluruh dunia. Hanya, arah jalur-jalur ini, polaritasnya, curvature-nya selalu cembung ke arah samudera. Coba perhatikan semua jalur subduksi dan jalur magmatik modern Indonesia atau Ring of Fire selalu cembung ke arah Samudera Hindia atau Samudera Pasifik. Mengapa begitu, ini berhubungan dengan geometri benda bola/globe (teorema Euler).
2. 50-15 Ma, kondisi seperti di atas secara garis besar lama bertahan, tetapi dari waktu ke waktu terjadi perubahan signifikan yang pada intinya mengubah arah/polaritas kedua busur magmatik dan subduksi Sulawesi dari cembung ke arah samudera menjadi agak lurus, hal ini disebabkan perubahan-perubahan tektonik di sekitarnya seperti pembukaan Selat Makassar, pembukaan Teluk Bone, pembukaan Teluk Tomini/Cekungan Gorontalo, subduksi Laut Sulawesi. Subduksi yang miring ke arah benua pun (kira-kira ke arah barat saat itu) terjadi berkali-kali dan menghasilkan beberapa periode magmatik dan volkanik di Sulawesi bagian barat.
3. 15-5 Ma, periode signifikan bagi Sulawesi, pada kala ini terjadilah benturan, collision, docking dua mikrokontinen Australia ke arah Sulawesi dari sebelah tenggara (mikrokontinen Buton-Tukangbesi) dan dari sebelah timur (mikrokontinen Banggai-Sula). Pada periode ini diperkirakan terjadi pembalikan utama arah/polaritas busur-busur Sulawesi baik untuk busur magmatik maupun jalur subduksinya dari semula cembung ke arah samudera menjadi cekung ke arah samudera (ke arah timur pada kala ini). Pembalikan polaritas busur-busur Sulawesi ini secara frontal adalah akibat benturan mikrokontinen d Banggai-Sula yang membenturnya di titik pusat Sulawesi, di bagian tengah, di pivot point-nya, atau seolah di “pusar”-nya. Analoginya kalau Sulawesi itu ibarat orang yang membusungkan dada dan perutnya ke depan (cembung ke samudera), lalu tiba-tiba ia “ditonjok” di pusarnya, maka tentu ia akan membungkuk menahan sakit (mencekung ke samudera). Bentuk “K” Sulawesi diperkirakan terjadi di kala ini. Ia membalik dari cembung ke timur menjadi cekung ke timur. Pembalikan busur-busur Sulawesi itu terjadi melalui perpindahan massa kerak Bumi bernama “rotasi”, Lengan Tenggara berotasi melawan arah jarum jam sehingga membuka melebarkan Teluk Bone di sebelah baratnya, Lengan Utara berotasi searah jarum jam sehingga menutup Cekungan Gorontalo.
4. 5-0 Ma (sekarang), adalah periode finalisasi pembalikan busur-busur Sulawesi dan periode tectonic escape di Sulawesi. Sebagaimana diteorikan, mengikuti benturan/collision maka akan ada post-collision tectonic escape, maka setelah benturan Buton-Tukangbesi dan benturan Banggai-Sula, terjadilah tectonic escape berupa sesar-sesar mendatar besar yang meretakkan dan menggeser-geser Sulawesi. Sesar-sesar ini mengarah ke timur umumnya, yaitu ke arah free oceanic edge saat itu sebagaimana teori tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar Palu-Koro, Matano, Lawanopo, Kolaka, dan Balantak terjadi melalui mekanisme post-collision tectonic escape. Tectonic escape juga dimanifestasikan dalam bentuk retakan-retakan membuka, ekstensional, di dalam area benturan Banggai-Sula atau Buton-Tukangbesi.
---
Demikianlah, sampai akhirnya kita kini mendapatkan busur-busur atau lengan-lengan pembentuk Sulawesi cekung ke arah timur membentuk huruf “K”, padahal, menurut hemat saya, sebelumnya, paling tidak sampai 15 Ma, busur-busur Sulawesi cembung ke arah timur. Dalam skala pulau, Sulawesi adalah contoh terbaik di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, bagaimana fenomena collision dan post-collision tectonic escape terjadi.***
---
Source : Original post by Awang Satyana (on Facebook, August 20th 2014)

SM-IAGI UNG

{picture#https://pbs.twimg.com/profile_images/497585628695891970/5H6NQcSq.jpeg} SM-IAGI UNG | Seksi Mahasiswa - Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Negeri Gorontalo | Ekstraksi - Konservasi - Mitigasi {facebook#http://www.facebook.com/smiagiung} {twitter#http://twitter.com/smiagiung} {google#http://plus.google.com/+SMIAGIUNG} {pinterest#http://www.pinterest.com/smiagi} {youtube#http://www.youtube.com/channel/UC6ajXFGGmFmwwt-fsxNqsigL} {instagram#http://instagram.com/smiagiung}
Powered by Blogger.