What is a Fossil?

Seperti kebanyakan orang, ketika Anda berpikir tentang fosil, Anda pasti akan berpikir tentang dinosaurus atau mamut. Yes! Itu benar! Tapi itu hanya beberapa jenis fosil dari sekian banyak yang telah ditemukan oleh paleontologist. Fosil dapat berumur semuda 10.000 tahun, atau setua 3,5 miliar tahun. Fosil dapat sebesar Seismosaurus, atau sekecil amoeba. Fosil bisa berupa mamut beku Siberia yang ditemukan lengkap dengan rambut, atau hanya berupa jejak. Fosil dapat berisi material dari organisme aslinya, atau tidak sama sekali. Jadi apa itu fosil?
Fossil or Subfossil? - SM IAGI UNG
Fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan dari waktu geologi sebelumnya (purba). Pada umumnya semua fosil memberi kita petunjuk tentang dunia lampau. Berkat fosil, kita tahu bahwa berbagai bentuk kehidupan telah menduduki planet ini. Fosil menceritakan kita bahwa kehidupan telah berkembang dari waktu ke waktu. Fosil telah berkontribusi dalam penyusunan skala waktu geologi.

Two Major Types of Fossils

Fosil tubuh (body fossils) - ahli paleontologi mendefinisikan sebagai fosil-fosil yang terdiri dari sisa-sisa material organisme aslinya, seperti; cangkang, tulang, dan gigi. Dimana tulang sebagai bagian keras dan jaringan organik (organic tissue) sebagai bagian lunak. Mereka juga mendefinisikan hewan tanpa tulang sebagai organisme bertubuh lunak. Istilah-istilah ini adalah cara yang berguna untuk membedakan tulang dan jaringan hewan.

Fosil jejak (trace fossils) - ahli paleontologi mendefinisikan sebagai fosil-fosil yang dibentuk oleh aktivitas atau perilaku organisme pada jaman dulu, seperti; jejak, jalur, liang, pengerekan, sarang, dan koprolit (fosil kotoran). Setiap sisa-sisa organisme dan segala macam jalur atau jejak, bahkan jika ahli paleontologi tidak dapat mengidentifikasinya sebagai tanaman atau aktivitas hewan, akan memenuhi syarat sebagai fosil jika itu dibentuk oleh suatu bentuk kehidupan dari waktu geologi sebelumnya.

Pada umumnya fosil berumur sangat tua, jutaan dan kadang-kadang lebih dari satu miliar tahun, namun secara teknis setiap sisa-sisa atau bukti kehidupan yang berumur lebih dari sekitar 10.000 tahun adalah fosil.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana cara objek dipelajari. Tidak peduli berapa umur sebuah objek, jika dipelajari dengan cara yang sama sebagai fosil yang berumur tua, sebagai sesuatu yang berasal dari batuan, maka sering dianggap sebagai fosil. Dengan demikian, dikarenakan jasad beku manusia es yang ditemukan beberapa tahun lalu di Pegunungan Alpen dipelajari dengan metode biologi dan antropologi, sebagian besar ahli paleontologi tidak akan menganggap manusia es tersebut sebagai fosil. Di sisi lain, seorang ahli paleontologi tertarik menafsirkan interaksi antara organisme dan lingkungan tempat tinggal mereka, mungkin dengan mempelajari cangkang modern seolah-olah sebagai fosil, bahkan jika suatu organisme mati hanya beberapa hari yang lalu. Subfossil adalah istilah yang kadang-kadang digunakan untuk sisa-sisa organisme yang baru saja mati jika ingin dipelajari seolah-olah sebagai fosil.

Organisms Preserved as Fossils
  • Fosil Invertebrata
Sejauh ini jumlah terbesar ahli paleontologi adalah mereka yang mempelajari fosil invertebrata, fosil organisme yang tidak memiliki tulang belakang. Hal ini dikarenakan jenis-jenis fosil invertebrata yang melimpah dan terawetkan dengan baik di berbagai jenis batuan, berasal dari berbagai jenis organisme, kebanyakan hidup dalam rentang waktu geologi yang panjang; dan karena jenis fosil ini sering terawetkan secara keseluruhan (bukan sebagai fragmen).
Fosil Trilobit - Kainops invius - lateral and ventral (sumber gambar: wikipedia.org)
Fosil Invertebrata - Trilobit (wikipedia.org)
  • Fosil Vertebrata
Fosil-fosil hewan bertulang belakang, seperti; ikan, amfibi, berbagai kelompok reptil, burung, dan mamalia - adalah contoh dari fosil vertebrata. Tulang dan gigi organisme jenis ini adalah bagian terkeras dari beberapa bagian tubuh lainnya, dan dengan demikian bagian tersebut cenderung tahan terhadap erosi, sehingga fosil vertebrata sering ditemukan hanya berupa tulang-tulang dan gigi-gigi nya saja. Seorang ahli paleontologi vertebrata akan mendapatkan informasi lebih banyak dari kerangka yang terawetkan secara utuh dibandingkan dari tulang-belulang dan gigi-gigi yang terpisah.
Fosil Vertebrata - Mosasaurus hoffmanni (sumber gambar: wikipedia.org)
Fosil Vertebrata - Mosasaurus hoffmanni (wikipedia.org)
  • Fosil Mikro
Ahli paleontologi menggunakan mikroskop untuk mempelajari segala macam fosil, bahkan tulang-tulang dinosaurus raksasa yang mungkin berukuran lebih dari beberapa meter dan memiliki berat puluhan kilogram. Sebuah mikrofosil adalah salah satu yang dapat dipelajari dengan mikroskop karena ukurannya yang sangat kecil. Mereka yang mempelajari fosil mikro disebut micropaleontologists, dan banyak dari mereka bekerja untuk perusahaan minyak karena fosil mikro berguna untuk menentukan usia batuan, dan cenderung menjadi satu-satunya jenis fosil yang menjadi alasan ketika sumur minyak dibor.
Fosil Mikro - Diatom - Didymosphenia geminata (Credit: Sarah Spaulding - westerndiatoms.colorado.edu)
Fosil Mikro - Diatom - Didymosphenia geminata
(credit: Sarah Spaulding - westerndiatoms.colorado.edu)
Bakteri yang terawetkan sebagai fosil jauh lebih banyak daripada yang diharapkan, mungkin karena bakteri begitu berlimpah, keras dan karena mereka dapat mengubah lingkungan mereka dengan cara yang signifikan. Studi tentang interaksi bakteri dengan batuan disebut geobiologi, merupakan salah satu bagian dari ilmu geologi yang menjanjikan dan sedang berkembang pesat.
  • Fosil Tanaman
Sebagian besar jenis tanaman tidak memiliki cangkang apapun seperti yang dimiliki hewan, meskipun beberapa jenis rumput memiliki butiran opal kecil yang mendatangkan malapetaka pada gigi hewan pemakan rumput. Kemungkinan tanaman terfosilkan sangatlah tipis, tetapi jika berada pada kondisi yang tepat, sebuah tanaman bisa terfosilkan. Ukuran batang pohon dan kelimpahan daun sangat berkontribusi terhadap kelimpahan catatan fosil tanaman. Batang pohon yang berukuran besar dapat memfosil sebelum membusuk; begitu pula halnya daun, jika terakumulasi dalam jumlah banyak pada satu lingkungan, daun-daun tersebut dapat mengubah lingkungan sehingga dapat meningkatkan kemungkinan fosilisasi mereka.
Fosil Tanaman - Fagus sylvatica pliocenica berumur kurang lebih 3 juta tahun (sumber: wikipedia.org)
Fosil Tanaman - Fagus sylvatica pliocenica berumur kurang lebih 3 juta tahun (wikipedi.org)
Satu fakta yang mengejutkan adalah bahwa meskipun organisme vertebrata dan tanaman saling ketergantungan dalam banyak hal, merupakan hal yang sedikit tidak lazim jika menemukan kedua fosil vertebrata dan tanaman terawetkan bersama dalam jenis batuan yang sama. Kondisi yang diperlukan untuk fosilisasi keduanya cukup berbeda, oleh karena itu tidak mungkin terjadi bersamaan. Meskipun kita tahu bahwa mereka umumnya tinggal bersama, di tempat yang sama.
  • Palynomorphs
Bagian ini lebih fokus mempelajari apa pun yang berukuran kecil sebagai spora atau butiran serbuk sari yang terawetkan pada batuan dalam jangka waktu geologi yang lama, disebut Palynology. Fosil serbuk sari cukup melimpah dan cukup resisten, ahli paleontologi membedakan fosil serbuk sari dari "fosil tanaman" meskipun keduanya tentu saja merupakan satu bagian. Berbagai jenis tanaman memiliki berbagai jenis spora dan serbuk sari yang dapat dibedakan dengan mempelajarinya dibawah mikroskop. Fosil spora dan serbuk sari memberikan banyak informasi tentang sejarah evolusi tanaman dan lingkungan pengendapan.
Fosil serbuk sari pinus (sumber: wikipedia.org)
Fosil serbuk sari pinus (wikipedia.org)
How do Fossils Form?

Ahli paleontologi sering berhubungan dengan orang-orang yang menemukan fosil dan ingin tahu lebih banyak tentang fosil. Salah satu pertanyaan pertama yang mereka tanyakan adalah, "Has it been fossilized?" Ingat bahwa fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan dari waktu geologi sebelumnya. Anything that keeps the remains from being destroyed by geological processes is a type of fossilization.
  • Permineralization
Pada umumnya tulang memiliki pori ddengan derajat yang beda-beda. Tulang yang berpori adalah tulang manusia dan cangkang-cangkang dari berbagai jenis hewan invertebrata. Ketika air tanah merembes masuk ke dalam fosil berpori, biasanya air akan mengendapkan material mineral ke dalam pori-pori, proses ini disebut sebagai permineralization. Material endapan dari proses ini dapat berkomposisi sama seperti tulang yang ditempatinya, atau dapat sangat berbeda.
  • Petrification
Secara harfiah, petrifikasi berarti pembatuan (beralih ke batu). Penggunaan kata ini menyiratkan bahwa suatu zat yang membatu harus dimulai tanpa mineral yang keras. Artinya, organisme yang terpetrifikasi adalah organisme yang bertubuh lunak. Petrifikasi adalah proses dimana bagain lunak dari objek terubah dengan mineral, contohnya mineral silika dalam bentuk mikrokristalin kuarsa (SiO2), kalsit atau kadang-kadang apatit - mineral kalsium fosfat dengan campuran beberapa elemen lain, terutama fluorine [Ca5F(PO4)3]. Contoh fosil yang mengalami petrifikasi adalah fosil kayu (petrified wood - kayu yang membatu).
  • Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah proses fosilisasi dimana satu jenis mineral mengkristal ke berbagai jenis mineral lainnya. Contohnya pada cangkang yang tersusun dari mineral aragonit, dalam proses fosilisasinya mineral tersebut akan merekristalisasikan mineral kalsit. Kebanyakan keong, kerang, kelompok cumi, dan koral dari era Mesozoikum dan Kenozoikum memiliki kerangka yang tersusun dari mineral aragonit. Aragonit dan kalsit memiliki komposisi kimia yang sama (CaCO3), akan tetapi kalsit memiliki struktur kristal yang stabil.
  • Casts dan Molds
Cast dan mold adalah bentuk tiga dimensi dari hasil pengawetan suatu organisme. Proses fosilisasi ini dimulai ketika suatu cangkang/kerangka organisme terperangkap dalam batuan sedimen. Sebagian besar dari kerangka ini terdiri dari zat-zat yang mudah larut dalam air berkarbonasi. Pada umumnya proses fosilisasi ini terjadi pada batuan yang berpori, contohnya batupasir. Sifat batuan yang berpori memudahkan air berkarbonasi untuk melarutkan cangkang dan jaringan asli dari organisme. Cast adalah bentuk cetakan bagian eksternal organisme, sedangkan mold adalah bentuk negative imprint dari permukaan organisme.
  • Karbonisasi
Terkadang suatu jasad organisme terkubur dengan cepat sebelum membusuk. Suksesi lapisan sedimen terendapkan dengan cepat di atasnya, membuat jasad organisme terkubur lebih dalam. Kemudian, semua material yang mudah menguap terpanaskan oleh panas bumi, dan menyisahkan carbon film. Fosil daun merupakan contoh terbaik dari proses ini.
  • Mumi
Mumi Firaun Mesir yang terawetkan dalam piramida tidak dianggap sebagai fosil biasanya, meskipun proses fosilisasinya sama dengan sisa-sisa organisme kuno lainnya. Ahli paleontologi beranggapan bahwa mumi terbentuk karena proses pengeringan yang cepat sebelum jasad mumi tersebut membusuk. Proses fosilisasi seperti ini jarang ditemukan, dan hanya terjadi pada daerah dengan kondisi yang sangat kering (mis; gurun atau goa). Mumi tidak bertahan lama, maka dari itu tidak ada mumi yang berumur sangat tua. Perubahan iklim, goa yang runtuh, dan serangan bakteri dapat menghancurkan mumi.
  • Frozen Mammoth
Pembekuan adalah jenis khusus dari proses mumifikasi. Lebih spektakuler lagi, fosil yang dihasilkan dari pembekuan tidak mengalami pengeringan. Pada tahun 1900 beberapa orang berburu fosil gading dari taring mammoth di Siberia Utara, dan mereka menemukan fosil mammoth yang tertanam dalam permafrost (lapisan es abadi) di tepi sungai. Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan melakukan projek untuk menghasilkan mammonth hidup dengan cara mengumpulkan DNA mammoth beku dan menggabungkannya dengan DNA gajah. Sejauh ini projek tersebut tidak menghasilkan banyak kemajuan, para ahli masih optimis, projek ini masih dianggap sesuatu yang menarik, yang suatu saat akan menghasilkan penemuan-penemuan baru.
  • Fosil dalam Amber
Amber adalah fosil getah pohon. Beberapa jenis pohon, bila kulit atau batangnya terkupas, pohon tersebut akan mengeluarkan cairan getah. Mekanisme tersebut yang membuat serangga terperangkap dalam getah. Amber tertua adalah yang pernah ditemukan di midcontinent Amerika Utara yang berumur sekitar 300 juta tahun.
  • Phosphatic fossilization
Mineral yang kaya akan fosfat, terutama mineral kalsium fosfat, terkadang menembus masuk ke ruang pori pada batuan, dan membentuk nodul fosfat. Ketika hal tersebut terjadi, pengawetan bisa sangat baik. Serat otot ikan, larva invertebrata, dan bahkan semua individual bakteri bisa terawetkan dengan proses phosphatization.
- - -
Demikian ulasan tentang; apa itu fosil?, jenis fosil, apa saja organisme yang terfosilkan?, dan bagaimana fosil terbentuk? Silakan tuliskan tanggapan, kritik dan saran Anda tentang artikel ini di kolom komentar. Terimakasih.
- - -
Sumber : Fosil / Definisi, Jenis dan Proses Pembentukan
- - -
Bahan Bacaan:
  • Cutler, A. 2003. The Seashell on the Mountaintop. Dutton, New York; 228 pp.
  • Prothero, D.R. (1998). Bringing Fossils to Life: An Introduction to Paleobiology. New York: McGraw-Hill.
  • Repcheck, J. 2003. The Man Who Found Time. James Hutton and the Discovery of the Earth’s Antiquity. Perseus Publishing, Cambridge, MA; 247 pp.
  • Rich P.V., Rich T. H., Fenton, M.A., & Fenton, C.L. (1996). The Fossil Book: A Record of Prehistoric Life. Mineola, NY: Dover Publications, Inc.
  • Rudwick, M. J. S. 1985. The Meaning of Fossils [2nd Ed]. University of Chicago Press, Chicago, IL; 304 pp.
  • Stanley, S. 2004. Earth System History. W. H. Freeman, San Francisco, CA. 567 pp.
  • Taylor, T.N., Taylor E.L. & Krings, M. (2009). Paleobotany: The Biology and Evolution of Fossil Plants [2nd Ed]. New York: Academic Press.
  • Winchester, S. 2001. The Map that Changed the World. William Smith and the Birth of Modern Geology. HarperCollins Publishers, New York; 329 pp.

Kami mengundang anda untuk datang dalam acara IAGI-MGEI, "Memperingati 200 Tahun Letusan Gunungapi Tambora dan Merayakan Ulang Tahun IAGI ke 55" yang akan diselenggarakan di Bali dan Sumbawa, 10-15 April 2015.

Acara ini terdiri dari dua sesi, yaitu:
  1. Vulcanology Class (Nusa Dua - Bali)
  2. Field Excursion to Tambora Vulcano (Pulau Sumbawa - NTB)
Biaya pendaftaran Rp. 20.000.000
Terbatas hanya untuk 50 pendaftar.
Pendaftaran akan ditutup pada 25 Maret 2015.

For further infromation & registration please contact Enrico Aritonang (Staf Sekretariat MGEI)

200 Years of Tambora Erupstion - Celebrating IAGI 55th Anniversary - flayer


Apa yang dimaksud dengan Tanah Longsor?

Bencana selalu melanda negeri kita - IndonesiaIstilah "Tanah Longsor" atau "Landslide", seperti yang didefinisikan oleh Cruden (1991) adalah gerakan massa batuan, puing-puing atau tanah yang menuruni sebuah lereng. Varnes (1978) mendefinisikan tanah longsor sebagai gerakan material ke bawah dan ke luar dari sebuah lereng di bawah pengaruh gravitasi. Brunsden (1984) lebih memilih istilah gerakan massa dan Dikau dkk (1996) mendefinisikan sebagai perpindahan massa pada suatu proses yang tidak memerlukan media transportasi seperti air, udara atau es. Fenomena tanah longsor tidak hanya sebatas "tanah" dan "longsor". Penggunaan kata "tanah longsor" memiliki makna yang jauh lebih luas.

Tipe Tanah Longsor (Varnes, 1978)

Sump-earth flow yang menunjukan bagian-bagian dari tanah longsor
Slump-earth flow - yang menunjukan bagian-bagian
dari tanah longsor. 
(Highland and Johnson, 2004)
Berbagai jenis tanah longsor dapat dibedakan dari jenis material longsoran. Sistem klasifikasi lainnya menggabungkan variabel tambahan, seperti tingkat gerakan dan air, udara, atau konten es.

Meskipun longsor pada umumnya terjadi di daerah pegunungan, longsor dapat juga terjadi di daerah-daerah berelief rendah. Di daerah ini, longsor terjadi karena faktor cut and fill, sebagai contoh; penggalian jalan dan bangunan, tebing sungai, runtuhnya tumpukan galian tambang (terutama tambang batubara), dan berbagai kegagalan lereng lainnya terkait dengan pertambangan khususnya tambang terbuka.

1. SLIDE: Terdiri dari Rotational Slide, Translational Slide dan Block Slide.
  • Rotational Slide adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung ke atas, dan pergerakan longsornya secara umum berputar pada satu sumbu yang sejajar dengan permukaan tanah.
  • Translational Slide adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata dengan sedikit rotasi atau miring ke belakang.
  • Block Slide adalah pergerakan batuan yang hampir sama dengan Translational Slide, tetapi massa yang bergerak terdiri dari blok-blok yang koheren.
Rotational Landslide - Translational Landslide - Block Slide types
Rotational Landslide - Translational Landslide - Block Slide (Highland and Johnson, 2004)
2. FALL: adalah gerakan secara tiba-tiba dari bongkahan batu yang jatuh dari lereng yang curam atau tebing. Pemisahan terjadi di sepanjang kekar dan perlapisan batuan. Gerakan ini dicirikan dengan terjun bebas, mental dan menggelinding. Sangat dipengaruhi oleh gravitasi, pelapukan mekanik, dan keberadaan air pada batuan.
Rockfall - types of landslide
Rockfall (Highland and Johnson, 2004)
3. TOPPLES: gerakan ini dicirikan dengan robohnya unit batuan dengan cara berputar kedepan pada satu titik sumbu (bagian dari unit batuan yang lebih rendah) yang disebabkan oleh gravitasi dan kandungan air pada rekahan batuan.
Topple - types of landslide
Topple (Highland and Johnson, 2004)
4. FLOWS: gerakan ini terdiri dari 5 ketegori yang mendasar.
  • Debris Flow adalah bentuk gerakan massa yang cepat di mana campuran tanah yang gembur, batu, bahan organik, udara, dan air bergerak seperti bubur yang mengalir pada suatu lereng. Debris flow biasanya disebabkan oleh aliran permukaan air yang intens, karena hujan lebat atau pencairan salju yang cepat, yang mengikis dan memobilisasi tanah gembur atau batuan pada lereng yang curam.
  • Debris Avalance adalah longsoran es pada lereng yang terjal. Jenis ini adalah merupakan jenis aliran debris yang pergerakannya terjadi sangat cepat.
  • Earthflow berbentuk seperti "jam pasir". Pergerakan memanjang dari material halus atau batuan yang mengandung mineral lempung di lereng moderat dan dalam kondisi jenuh air, membentuk mangkuk atau suatu depresi di bagian atasnya.
  • Mudflow adalah sebuah luapan lumpur (hampir sama seperti Earthflow) terdiri dari bahan yang cukup basah, mengalir cepat dan terdiri dari setidaknya 50% pasir, lanau, dan partikel berukuran tanah liat.
  • Creep adalah perpindahn tanah atau batuan pada suatu lereng secara lambat dan stabil. Gerakan ini disebabkan oleh shear stress, pada umumnya terdiri dari 3 jenis:
    • Seasonal, di mana gerakan berada dalam kedalaman tanah, dipengaruhi oleh perubahan kelembaban dan suhu tanah yang terjadi secara musiman.
    • Continuous, di mana shear stress terjadi secara terus menerus melebihi ketahanan material longsoran.
    • Progressive, di mana lereng mencapai titik failur untuk menghasilkan suatu gerakan massa. Creep ditandai dengan adanya batang pohon yang melengkung, pagar atau dinding penahan yang bengkok, dan adanya riak tanah kecil atau pegunungan.
Debris Flow - Debris Avalance - Earthflow - Creep - types of landslide
Debris Flow - Debris Avalance - Earthflow - Creep (Highland and Johnson, 2004)
5. LATERAL SPREADS: umumnya terjadi pada lereng yang landai atau medan datar. Gerakan utamanya adalah ekstensi lateral yang disertai dengan kekar geser atau kekar tarik. Ini disebabkan oleh likuifaksi, suatu proses dimana tanah menjadi jenuh terhadap air, loose, kohesi sedimen (biasanya pasir dan lanau) perubahan dari padat ke keadaan cair.
Lateral Spread - types of landslide
Lateral Spread (Highland and Johnson, 2004)

Penyebab Tanah Longsor

Aspke Geologi
  • Material yang lemah atau sensitif
  • Material lapuk
  • Sheared, jointed, atau fissured materials
  • Diskontinuitas berorientasi negatif (bedding, schistosity, sesar, ketidakselarasan, kontak, dan sebagainya)
  • Berbeda permeabilitas dan / atau kekerasan material
Aspek Morfologi
  • Tectonic or volcanic uplift
  • Glacial rebound
  • Erosi fluvial, ombak, atau glasial pada kaki lereng atau margin lateral
  • Erosi bawah tanah (solution, piping)
  • Pembebadan lereng atau puncak nya
  • Berkurangnya vegetasi (kebakaran, kekeringan, penebangan)
  • Freeze-and-thaw weathering
  • Shrink-and-swell weathering
Aspek Manusia
  • Penggalian lereng atau kaki-nya
  • Pembebanan lereng atau puncak nya
  • Drawdown (of reservoirs)
  • Penebangan hutan
  • Irigasi
  • Pertambangan
  • Artificial vibration
  • Kebocoran air dari pipa PDAM
Proposed Landslide Velocity Scale and Probable Destructive Significance (Cruden & Varnes, 1996)
Skala kecepatan aliran longsor
dan kerusakan yang mungkin ditimbulkan (Cruden & Varnes, 1996).
Meskipun ada banyak penyebab terjadinya tanah longsor, tiga penyebab utama tanah longsor yang sangat menimbulkan kerusakan adalah:
  • Tanah Longsor dan Air
Lereng yang jenuh air adalah penyebab utama longsor. Efek ini disebabkan oleh curah hujan yang intens, pencairan salju, perubahan tingkat air tanah, dan perubahan permukaan air tanah sepanjang garis pantai, bendungan, tepi danau, waduk, kanal, dan sungai.

Tanah longsor dan banjir sangat berhubungan erat karena keduanya berkaitan dengan curah hujan, limpasan, dan kejenuhan air tanah. Selain itu, arus debris dan lumpur yang biasanya terjadi pada skala kecil, saluran sungai yang curam dan sering menimbulkan banjir; pada kenyataannya, dua peristiwa ini sering terjadi secara bersamaan di daerah yang sama.
  • Tanah Longsor dan Aktivitas Seismik
Banyak daerah pegunungan yang rawan longsor juga telah mengalami setidaknya beberapa kali gempabumi dalam rentang waktu tertentu. Terjadinya gempa bumi di daerah berlereng terjal akan meningkatkan kemungkinan bahwa tanah longsor akan terjadi. Getaran gempa dapat mengakibatkan dilatasi tanah dan batuan, yang memungkinkan infiltrasi air terjadi  sangat cepat.
  • Tanah Longsor dan Aktivitas Vulkanik
Tanah longsor akibat aktivitas gunungapi adalah salah satu yang paling dahsyat. Lava vulkanik dapat mencairkan salju dengan sangat cepat, menyebabkan banjir lahar yang mengalir cepat di lereng gunungapi yang curam. Arus debris ini dapat mencapai jarak yang cukup jauh, menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Letusan Gunung St Helens tahun 1980 di Washington, memicu longsor besar di sisi utara gunung berapi tersebut, tercatat sebagai tanah longsor terbesar yang pernah terjadi.

Mitigasi Tanah Longsor

Faktor-faktor kerentanan terhadap tanah longsor adalah lokasi, aktivitas manusia, penggunaan lahan, dan frekuensi terjadinya longsor. Efek tanah longsor terhadap manusia dan bangunan dapat dikurangi dengan cara menghindari daerah rawan, menyiarkan larangan, atau dengan menerapkan standar keselamatan saat berada di daerah tersebut.

Pemerintah daerah dapat mengurangi dampak kerugian longsor melalui kebijakan dan peraturan penggunaan lahan dan pembuatan peta rawan longsor. Setiap individu dapat mengurangi kemungkinan mereka terhadap bahaya dengan mendidik diri mereka sendiri tentang sejarah masa lalu tentang kebencanaan. Mereka juga dapat memperoleh layanan dari ahli geologi teknik, insinyur geoteknik, atau seorang insinyur sipil, yang dapat mengevaluasi potensi bahaya dari sebuah situs.

Bahaya dari tanah longsor dapat dikurangi dengan menghindari pembangunan di lereng curam dan potensi tanah longsor yang ada, atau dengan menstabilkan lereng. Stabilitas lereng ditingkatkan jika air tanah dapat dicegah agar tidak merembes ke dalam material lahan, dengan cara:
  1. Menutupi daerah rawan longsor dengan suatu lapisan kedap air,
  2. Menguras air tanah yang ada di daerah longsor,
  3. Meminimalisasikan pengairan permukaan, dan
  4. Struktur penahan dan/atau berat tanggul tanah/batuan ditempatkan pada kaki lereng.
***
  • Australian Geomechanics Society, 2000. Landslide Risk Management Concepts And Guidelines. Australian Geomechanics Society, Sub-Committee on Landslide Risk Management.
  • Brunsden, D. 1984. Mudslides. In Slope Instability (eds D. Brunsden and D.B. Prior), Wiley, Chichester.
  • Cruden, D. M. and Varnes, D. J., 1996. Landslide Types and Processes. In Landslides, Investigation and Mitigation. Special Report 247, Transportation Research Board, Washington D. C. 
  • Cruden, D. M., 1991. A Simple Definition of a Landslide. Bulletin International Association for Engineering Geology. 
  • Dikau, R., Brunsden, D., Schrott, L. & M.-L. Ibsen (Eds.) 1996. Landslide Recognition. Identification, Movement and Causes. Wiley & Sons, Chichester.
  • Highland, L. and Johnson, M. 2004. Landslide Types and Processes. USGS Fact Sheet 2004-3072.
  • Varnes, D. J. 1978. Slope movement types and processes. In: Special Report 176: Landslides: Analysis and Control. Transportation and Road Research Board, National Academy of Science, Washington D. C.

Flyer Surface Exploration for Geothermal Resources - SM IAGI UNGPada tanggal 1 dan 2 Desember 2014, SM-IAGI UNG mengadakan kegiatan Course & Excursion dengan tema “Surface Exploration for Geothermal Resources”. Topik Geothermal sendiri menjadi topik wajib tahunan untuk setiap SM-IAGI seluruh Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang energi alternatif dan ramah lingkungan ini, dari mana energy ini berasal?, seberapa besar pontensi geothermal di Indonesia? dan untuk mengetahui gambaran singkat tentang explorasi geothermal.

Dalam kesempatan ini kami menghadirkan 2 pemateri yaitu, Bapak M. Yustin Kamah – Senior Advisor New Energy and Green Technology PT. Pertamina Geothermal Energy, dan Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T – Ketua Pengurus Daerah IAGI SULUT-Gorontalo.

Course, 1 Desember 2014

Pada pukul 09.00 wita, acara dimulai dengan kalam ilahi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta. Dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia oleh Tober Mardain, serta sambutan sekaligus membuka acara secara resmi oleh Prof Dr. Sarson Pomalato, M.Pd (PR 1 UNG). Beliau menghaturkan bahwa topik yang diangkat dalam kegiatan ini sangat pas dengan kondisi harga BBM yang terus meningkat. Besar harapan, dengan dibekali ilmu pengetahuan kelak nanti ada mahasiswa Teknik Geologi UNG yang bekerja di sektor Geothermal, menjadi pemegang tongkat estapet dari senior-seniornya dalam memajukan industri Geothermal Indonesia.

Sambutan dan Pembukaan Kegiatan oleh PR 1 UNG - Prof. Dr. Sarson Pomalato, M.Pd
Sambutan dan Pembukaan Kegiatan oleh PR 1 UNG - Prof. Dr. Sarson Pomalato, M.Pd
Selanjutnya adalah pelantikan pengurus SM-IAGI UNG 2014-2015 oleh Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T dengan secara simbolis memberikan plakat kepada Ketua Umum – Tober Mardain.

Pukul 10.00 wita – Pemaparan pertama oleh Bapak M. Yustin Kamah (PT. Pertamina Geothermal Energy) dengan judul GGGR FOR GEOTHERMAL RESOURCES. Hal-hal yang dibahas adalah Geothermal Over View as A Basic Knowledges, Pengelolaan Energy Geothemal Di Indonesia, Konsep Dasar  Geothermal, Geothermal Exploration Stages (Geologi Eksplorasi, Geokomia Eksplorasi, Geofisika Eksplorasi, Wells Drilling Prognosis, Borehole GGGR, Reservoir – Development, Produksi), dan Geothermal Energy Benefits.

Pemaparan GGGR For Geothermal Resources oleh M. Yustin Kamah (PT. Pertamina Geothermal Energy)
Pemaparan "GGGR For Geothermal Resources" oleh M. Yustin Kamah (PT. Pertamina Geothermal Energy)
Beliau mengatakan bahwa, Lengan Utara Sulawesi diapit oleh dua tunjaman (yaitu; tunjaman lempeng Philipine dari sebelah utara dan lempeng laut Molucca di sebelah timur) hal tersebut mangakibatkan adanya jajaran gunungapi dari mulai Kotamobagu sampai Kep. Sangihe, - juga yang mengakibatkan adanya patahan-patahan sebagai kontrol dari titik-titik panas bumi yang tersebar di Lengan Utara Sulawesi.

Tercatat ada 7 titik panas bumi yang 2 diantaranya berada di wilayah Gorontalo (Pentadio dan Suwawa – sumber daya 75 MW spekulatif dan cadangan 110 MW terduga). 1 titik berada di Bolaang Mongondow (Kotamobagu – sedang dieksplorasi, cadangan 185 MW terduga). Dan 2 titik berstatus produksi adalah Lahendong – Tompaso, dengan cadangan 250 MW terbukti.

Sesi ini berlangsung ± 90 menit dan 30 menit tanya jawab. Kemudian dilanjutkan dengan ISOMA.

Pukul 13.30 wita – Pemaparan kedua oleh Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T dengan judul THE PROMISING RESOURCE POTENTIAL OF GEOTHERMAL FIELD IN INDONESIA. Hal-hal yang dibahas adalah; Geothermal Energy, Geothermal Resources, Plate Tectonic Structures And Active Volcanic Arcs In Indonesia, Potential Of Geothermal Field In North Sulawesi, Hydrothermal System With Close Volcanic-Magmatic Associations, Types Of Geothermal Power Plans, Kotamobagu Geothermal Field.

Sesi ini berlangsung ± 90 menit dan 15 menit tanya jawab.

Pemaparan kedua oleh Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T (Ketua Pengda IAGI Sulut-Gorontalo)
Pemaparan kedua oleh Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T (Ketua Pengda IAGI Sulut-Gorontalo)
Excursion, 2 Desember 2014

Pukul 08.00 wita - Seluruh peserta berkumpul di kampus Universitas Negeri Gorontalo. Kami berangkat ke lokasi panas bumi di Desa Pancuran, Kec. Suwawa Selatan, Bone Bolango, dengan menggunakan 1 unit bus dan 1 unit mobil kecil. Dalam waktu tempuh ± 40 menit kami sampai di lokasi tersebut.

Hujan gerimis pada pagi itu tidak menurunkan niat kami untuk menerima pamaparan dari Pak Hendra. Beliau menjelaskan tentang data-data umum apa saja yang perlu di rekam saat observasi manifestasi permukaan geothermal, seperti; data lokasi, pengukuran pH air, pengukuran suhu permukaan air menggunakan termometer batang dan temometer infrared, cara pengambilan sampel air, data mineral alterasi panas bumi, penjelasan tentang fumarole/solfatar, hot spring, mud pool, steaming ground, dll.

Peserta ekskursi saat menerima penjelasan dari pemateri.
Peserta ekskursi saat menerima penjelasan dari pemateri.
Menurut penjelasan beliau, lokasi mata air panas yang kita kunjungi ini tergolong Low Enthalpy, pemanfaatannya secara direct use, seperti; untuk rileksasi/terapi, untuk peternakan ikan, untuk mempercepat pertumbuhan sayur dan buah, serta untuk memanaskan ruangan (umumnya di Negara-negara yang memiliki 4 musim).

Suasana kegiatan di lapangan terbilang santai, akrab dan interaktif. Perserta mengajukan pertanyaan disela-sela penjelasan Pak Hendra. Kebanyakan dari peserta ekskursi ini adalah mahasiswa Teknik Geologi tingkat 1 dan 2. Pada pukul 11.30 wita kami kembali ke kampus UNG, dan selanjutnya ISOMA.

Foto bersama setelah kegiatan ekskursi selesai.
Foto bersama setelah kegiatan ekskursi selesai.
Pukul 13.00 wita – peserta berkumpul untuk menerima review kegiatan lapangan. Dilanjutkan dengan penutupan kegiatan, penyampaian pesan dan kesan, pemberian momento, dan foto bersama.

Syukur Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan Course & Excursion “Surface Exploration for Geothermal Resources” ini telah selesai. Semoga ilmu dan pengalaman yang diberikan kepada kami dapat melekat dan membawa semangat positif.

Untuk itu kami segenap pengurus SM-IAGI UNG mengucapkan terimakasih kepada:
  1. Ketua & Sekjen IAGI - Sukmandaru Prihatmoko & Shinta Damayanti
  2. Vice President Upstream Technology Center Direktorat Hulu - Sigit Rahardjo
  3. Senior Advisor New Energy and Green Technology - M. Yustin Kamah
  4. Ketua Pengda IAGI Sulut-Gorontalo - Dr. Eng. Hendra Riogilang, M.T
  5. Pembimbing Profesional SM-IAGI UNG - Gayuh N. D. Putranto
    Juga untuk media partners kami :
      Kegiatan ini dimuat dalam koran Radar Gorontalo, Edisi 1 Desember 2014
      Kegiatan ini dimuat dalam koran Radar Gorontalo, Edisi 1 Desember 2014
      Foto-foto kegiatan selengkapnya bisa dilihat disini

      Salam,
      Ebay Febryant (Ketua SM-IAGI UNG 2013-2014)

      SM IAGI UNG - Seharusnya lebih termotivasi
      Lima paper terbaik dalam SM-IAGI Paper Contest 2014
      1. SM IAGI AKPRIND - Yogyakarta (Marchel Monoarfa & Muhammad Yasin) "PEMETAAN CEKUNGAN TARGET EKSPLORASI MIGAS KAWASAN TIMUR INDONESIA".
      2. SM IAGI UNHAS - Makassar (Pagindhu Yudha Ginting) "IDENTIFIKASI PETROGRAFIS BATUGAMPING DAERAH BULUBULU SEBAGAI RESERVOIR HIDROKARBON".
      3. SM IAGI UNPAD - Bandung (Hendy Taufik & Muhamad Alwi) "PERAN BATUAN INDUK DAN GEOKIMIA MINYAK BUMI PADA SIKUEN EOSEN DALAM MENENTUKAN POTENSI HIDROKARBON DI SELAT MAKASSAR, KEPULAUAN SULAWESI".
      4. SM IAGI UGM - Yogyakarta (Kamil Ismail & Endah Sulistiani) "ROLLBACK DAN PERKEMBANGAN HIDROKARBON DI CEKUNGAN SERAM INDONESIA TIMUR".
      5. SM IAGI STT MIGAS - Balikpapan (Ikhsansyah Putra Pratama & Zakaria Yahya) "PETROLEUM PLAY CEKUNGAN BUTON SULAWESI TENGGARA, INDONESIA BAGIAN TIMUR".
      Kelima pamenang di atas berhak mengikuti kegiatan site visit ke Total E&P Indonesie, Balikpapan!!!

      Pemenang Lomba Website antar SM-IAGI 2014

      Untuk SM IAGI pemenang lomba web SM IAGI masing-masing berhak mendapatkan tambahan pendanaan anggaran kegiatan untuk tahun 2015 yaitu:
      1. SM IAGI UNG sebesar 10 juta, sehingga dapat mengajukan maksimal anggaran tahun 2015 sebesar 15 juta.
      2. SM IAGI ITB sebesar 7.5 jt, sehingga dapat mengajukan maksimal anggaran tahun 2015 sebesar 12.5 juta.
      3. SM IAGI STT MIGAS sebesar 5 jt, sehingga dapat mengajukan maksimal anggaran tahun 2015 sebesar 10 juta.
      Selamat kepada para pemenang. Semoga ajang ini dapat memacu motivasi kita semua SM IAGI seluruh Indonesia untuk terus berkarya. Jaya terus geosaintis muda Indonesia!!!

      SM-IAGI UNG

      {picture#https://pbs.twimg.com/profile_images/497585628695891970/5H6NQcSq.jpeg} SM-IAGI UNG | Seksi Mahasiswa - Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Negeri Gorontalo | Ekstraksi - Konservasi - Mitigasi {facebook#http://www.facebook.com/smiagiung} {twitter#http://twitter.com/smiagiung} {google#http://plus.google.com/+SMIAGIUNG} {pinterest#http://www.pinterest.com/smiagi} {youtube#http://www.youtube.com/channel/UC6ajXFGGmFmwwt-fsxNqsigL} {instagram#http://instagram.com/smiagiung}
      Powered by Blogger.