Kuliah Umum dan Bimbingan Tugas Akhir
23-25 Februari 2016

Peserta:
Peserta kegiatan dari kuliah umum ini dihadiri ± 70 orang mahasiswa Teknik Geologi mulai dari semester 2 sampai dengan semester akhir dan dihadiri 3 orang dosen dari jurusan ilmu dan teknologi kebumian.

Penyelenggara:
Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi dan Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia, UNG.

Pelaksanaan:
Pelaksanaa kuliah umum dan bimbingan tugas akhir ini terlaksana selama 3 hari, selasa dan kamis di Aula Fakultas MIPA UNG.

Hari pertama, 23 Februari 2016

Pembukaan Kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo
Pembukaan Kegiatan
Rangkaian acara ini dimulai pukul 09.00 wita dengan diawali pembukaan oleh Dekan Fakultas MIPA Prof. Dr Evi Hulukati M.pd, dan dilanjutkan serta sambutan dari PT Gorontalo Minerals oleh General Manager Pak Dedi Hendrawan.
Setelah pembukaan, masuk ke acara inti dengan susunan pemateri  yang disertai dengan sesi tanya jawab.

Pemateri:
  1. Tahapan Eksplorasi (Oshlan R Towalu - PT GM)
  2. Perijinan dan Pengembangan Masyarakat (Didik B Hatmoko - PT GM)
  3. Metalurgi dan Pemrosesan (Subehan Ahmad - PT GM)

Salah satu peserta memberikan pertanyaan dalam kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo

Foto bersama dalam Salah satu peserta memberikan pertanyaan dalam kegiatan MGEI Goes to Universitas Negeri Gorontalo

Hari ke 2, 24 Februari 2016

Setelah kuliah umum diadakan satu hari, PT GM mengadakan sharing knowlagde kepada mahasiswa Teknik Geologi untuk pembuatan peta pada tugas akhir yang disesuaikan dengan daerah penelitian masing-masing.

Bimbingan Tugas Akhir Dari Ahli Geologi PT Gorontalo Minerals kepada Mahasiswa Teknik Geologi UNG
Bimbingan Tugas Akhir
Hari ke-3, 25 Februari 2016

Acara kuliah umum yang kedua ini dimulai dari jam 09.00 wita, dengan jumlah peserta yang semakin banyak dari sebelumnya. Pemateri dan materinya sbb:
  1. Pemodelan Geologi dan Estimasi SDM (Ndaru Cahyono - PT GM)
  2. Porphyry dan Epitemal HS (Setiono - PT GM)
Dengan program ini, kami sebagai mahasiswa dapat mempelajari banyak hal tentang geologi sekaligus good exploration-practice melalui para profesional dan industrialis sekaligus aktivis MGEI dan IAGI. Dari 3 hari kegiatan kemarin, kami menimba ilmu tentang: 
  1. Tahapan-tahapan eksplorasi mineral, dari desktop study, regional, field prospecting, hingga resource delineation.
  2. Perijinan-legal bisnis pertambangan dan pengembangan masyarakatnya.
  3. Dasar pengolahan dan ekstraksi mineral.
  4. Pemodelan geologi dan dasar estimasi sumberdaya mineral.
  5. Tipe deposit phorphyry Cu & epitermal high sulfidation Au-Ag-Cu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua MGEI, Ketua IAGI, manajemen dan staff PT GM atas terselenggaranya kegiatan yang sangat positif ini. Dimulai sejak Mei 2012, kami berusaha aktif mengundang pihak industri, organisasi profesi, maupun akademisi guna berbagi ilmu dan best-practice kepada kami. Kami berharap kolaborasi mutualisme seperti ini dapat terus terselenggara dengan peningkatan frekuensi, pengembangan network, dan keberagaman materi serta pemateri.

Salam,

Pasir merupakan material granular alami yang belum terkonsolidasi. Pasir terdiri dari butiran-butiran yang berukuran dari 1/16 – 2 mm. Butiran pasir bisa berupa mineral tunggal, fragmen batuan atau biogenik.

Material granular yang lebih halus dari pasir disebut sebagai lanau, dan yang lebih besar disebut sebagai kerikil. Pada umumnya pasir terdiri dari mineral silikat atau fragmen batuan silikat. Sejauh ini mineral yang paling umum ditemukan sebagai penyusun pasir adalah mineral kuarsa. Namun, pasir adalah material campuran yang terjadi secara alami, yang berarti bahwa pasir tidak hanya mengandung satu komponen tunggal. Pasir yang telah terkonsolidasi adalah jenis batuan yang dikenal sebagai batupasir.

Pasir di pantai
Pasir di pantai. (kidspot.com.au)
Pembentukan Pasir

Pasir terbentuk karena adanya proses pelapukan fisik dan kimia pada batuan. Proses pelapukan ini biasanya dipelajari secara terpisah, tetapi pada kenyataannya kedua proses ini biasanya berjalan beriringan karena keduanya cenderung saling mendukung dalam proses pelapukan.

Pelapukan kimia merupakan faktor penting dalam pembentukan pasir secara keseluruhan, karena proses ini terjadi secara efisien di lingkungan yang lembab maupun panas. Sedangkan pelapukan fisik hanya mendominasi di tempat-tempat yang dingin dan / atau kering. Pelapukan batuan dasar yang menghasilkan pasir biasanya terjadi di bawah tanah. Tanah yang menutupi batuan dasar membuat lingkungan sekitar batuan menjadi lembab, yang kemudian mempercepat proses disintegrasi batuan.
Granit. contoh yang abgus dalam pembentukan pasir
Granit. (ucl.ac.uk)
Granit adalah jenis batuan yang umum dan merupakan contoh yang bagus dari proses pembentukan pasir. Granit sebelum melapuk, terdiri dari mineral-mineral berikut:
  • Sodium Plagioclase feldspar (Na feldspar)
  • Potassium feldspar (K feldspar)
  • Kuarsa
  • Mineral aksesori: biotite, amphibole, atau muskovit
Apa yang terjadi jika granit melapuk?
  • Na feldspar dan K feldspar mengalami proses hidrolisis untuk membentuk mineral lempung kaolin, serta ion-ion Na+ dan K+.
  • Biotit dan / atau amphibole mengalami proses hidrolisis dan oksidasi, membentuk mineral lempung dan oksida besi.
  • Kuarsa (dan muskovit jika ada) menjadi mineral residual, karena resisten terhadap pelapukan.
  • Fragmen batuan yang lapuk kemudian menjadi bagian dari unsur tanah.
Setelah itu?
  • Butiran mineral kuarsa kemudian tererosi dan menjadi bagian sedimen pasir, diangkut oleh arus sungai atau angin untuk kemudian diendapkan membentuk sand dune, channel bar, point bar dan sandy beach.
  • Lempung akhirnya tererosi dan menjadi muatan suspensi dalam arus air sungai, sampai kemudian terendapkan di lingkungan arus yang tenang.
  • Ion-ion terlarut akan diangkut oleh sungai, sampai akhirnya akan menjadi bagian dari larutan garam di lingkungan air laut.
Komposisi Pasir

Pasir merupakan kompulan material residual dari yang sudah ada sebelum pelapukan batuan terjadi. Namun, ada satu aspek penting - pasir terbentuk di lingkungan yang keras, di mana hanya yang terkuat yang bisa bertahan. "Terkuat" adalah yang paling tahan terhadap proses pelapukan. (baca: pasir terbentuk dari apa?)

Kuarsa adalah salah satu mineral dari daftar mineral penyusun pasir yang umum ditemukan pada sampel pasir. Kuarsa menghuni 12% dari kerak bumi. Hanya saja feldspar lebih banyak daripada kuarsa, menghuni lebih dari 50% kerak bumi.

Pasir Kuarsa - Quartz Sand
Pasir Kuarsa. (buschgeotech.com)
Mineral-mineral yang relatif jarang seperti turmalin, zirkon, rutil, dll, juga sangat resisten terhadap pelapukan, namun jarang ditemukan dalam jumlah banyak dalam komposisi pasir. Mineral-mineral tersebut secara umum disebut sebagai heavy minerals (mineral berat).

Mineral berat ini kadang terkonsentrasi dalam jumlah yang banyak sebagai komponen penyusun pasir. Hal tersebut biasanya diakibatkan oleh proses penyortiran hidrodinamik. Baik itu gelombang laut atau aliran sungai yang menyortir butiran yang lebih berat dan membawa butiran lainnya yang lebih ringan. Endapan yang dihasilkan dari proses ini dikenal sebagai placers. Mineral-mineral yang sering diekstrak dari endapan placer adalah emas, kasiterit, ilmenit, monasit, magnetit, zirkon, rutil, dll.

Bijih kasiterit
Kasiterit. (geology.com)
Mineral-mineral pembentuk batuan lainnya seperti amphibole dan mika juga sering ditemukan di dalam sampel pasir, meskipun hanya dalam jumlah sedikit. Kelompok mineral ini termasuk yang tidak tahan terhadap pelapukan, contohnya seperti olivin dan piroksen.

Namun, ada beberapa pantai yang sebagian besar terdiri dari piroksen dan olivine dengan sedikit campuran magnetit, sering disebut sebagai black sand (pasir hitam). Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Pasir pantai seperti ini biasanya terdapat di daerah vulkanik aktif. Piroksen dan olivin merupakan mineral yang umum sebagai penyusun batuan mafik, seperti basalt. Pasir hitam adalah fenomena khas dari kepulauan vulkanik samudra, di mana granit dan batuan felsik lainnya tidak ditemukan.

Kebanyakan dari sampel pasir, butiran pasir terdiri dari mineral-mineral tunggal. Namun terkadang pasir juga mengandung fragmen batuan (fragmen litik). Granit biasanya terdisintegrasi menjadi butiran mineral yang berbeda-beda, tapi filit dan basal cenderung hadir sebagai fragmen litik dalam komponen pasir. Hal tersebut terjadi karena filit dan basal adalah batuan yang bertekstur halus. Fragmen litik ini sering terbentuk di daerah-daerah di mana erosi terjadi sangat cepat, contohnya di daerah pegunungan.

Terkadang pasir juga mengandung mineral baru atau agregat mineral yang tidak terbentuk dari proses pembekuan magma. Contoh penting adalah mineral lempung glauconite yang terbentuk dalam endapan pasir di lingkungan laut, menghasilkan jenis batuan yang disebut glauconitic sandstone. Keberadaan mineral ini memberi warna hijau gelap yang khas untuk kebanyakan sampel pasir.

Ada banyak contoh pasir aneh lainnya yang membutuhkan kondisi pembentukan khusus. Salah satu contoh yang baik adalah pasir di New Mexico yang terdiri dari gipsum murni. Pasir dengan komposisi seperti ini cukup aneh dan jarang, karena gipsum merupakan mineral evaporit. Mineral seperti ini hanya dapat bertahan dalam kondisi kering. Halit, yang bahkan lebih mudah larut dari gipsum, juga dikenal sebagai komponen pembentuk pasir dalam kondisi tertentu.

Debu vulkanik biasanya dipelajari secara terpisah, tidak diaktegorikan sebagai jenis pasir. Mungkin karena kita manusia cenderung menciptakan hambatan buatan dan prinsip-prinsip klasifikasi. Sedimen dan piroklastik adalah dua dunia yang berbeda. Pada kenyataannya, hal ini menjadi lebih rumit karena selalu saja ada alasan untuk mengatakan bahwa butiran debu vulkanik (dan material piroklastik lainnya seperti lapili dan bom) juga merupakan jenis sedimen, karena mereka terendapkan di permukaan tanah melalui proses yang tidak jauh berbeda dari proses endapan pasir di sungai, pantai, atau pun gurun. Debu vulkanik dan pasir bahkan memiliki prinsip-prinsip klasifikasi yang sebanding. Debu vulkanik adalah sedimen piroklastik dengan ukuran butir rata-rata kurang dari 2 milimeter. Oleh karena itu, debu vulkanik juga bisa dianalogikan sebagai pasir atau lempung.

Jenis pasir berikutnya adalah pasir biogenik. Pasir biogenik terdiri dari fragmen eksoskeleton dari organisme laut. Kontributor umum dari komponen jenis ini adalah koral, foraminifera, landak laut, sponge, moluska, ganggang, dll. Jenis pasir seperti ini biasanya dikenal sebagai pasir koral, meskipun dalam banyak kasus pasir tersebut tidak mengandung fragmen koral sama sekali. Pasir biogenik biasanya berwarna terang dan tersebar luas di daerah dekat katulistiwa. Koral biasanya hanya hidup di lingkungan air hangat, tetapi ada juga beberapa taxons lain yang dapat hidup dengan baik di lingkungan yang lebih dingin. Pasir biogenik karbonatan juga berkontribusi dalam pembentukan batugamping.

Pasir bioklastik
Pasir bioklastik. (buschgeotech.com)
Terkadang pasir mengandung beberapa atau seluruhnya terdiri dari butiran karbonat yang bukan berasal dari fragmen organisme laut yang mati. Butiran karbonat ini disebut sebagai ooid. Pasir juga tidak sepenuhnya terdiri dari mineral-mineral tunggal, litik, atau pun biogenik. Dalam banyak kasus, dua di antaranya, atau bahkan ketiganya tercampur dalam satu sampel sedimen pasir.

Tekstur dan Transportasi Sedimen Pasir

Ahli geologi mendeskripsikan pasir dengan mengukur kebundaran dan distribusi ukuran butirnya. Dengan melakukan itu mereka dapat mendapatkan informasi tentang asal-usul pasir tersebut. Kebundaran biasanya memberikan informasi tentang seberapa jauh rute transportasi sedimen, dan distribusi ukuran butir membantu ahli geologi untuk menentukan dari lingkungan mana sedimen tersebut diendapkan. Pasir sungai biasanya terpilah buruk, sedangkan pasir pantai atau gurun lebih bulat dan terpilah baik.

Graded Bedding
Kuat arus berperan dalam sortasi ukuran butir. (arlimillerphoto.com)
Ukuran rata-rata butiran pasir ditentukan oleh energi dari media transport. Semakin kuat kecepatan arus (baik itu arus sungai atau gelombang laut) maka semakin mungkin arus tersebut membawa material yang lebih berat / besar.

Pada umumnya media transport pasir adalah arus sungai. Butiran pasir cenderung bergerak melompat-lompat terhadap rata-rata kecepatan arus sungai. Mode gerakan ini dikenal sebagai saltation. Sedangkan lanau, material sedimen yang jauh lebih ringan dari pasir, cenderung bergerak melayang-layang terhadap rata-rata kecepatan arus sungai. Gerakan ini disebut suspended load.

Dataran banjir - channel bar dan point bar Sungai Bone, Gorontalo
Dataran banjir, channel bar dan point bar di Sungai Bone, Gorontalo. (google map)
Butiran sedimen pasir yang diangkut oleh sungai-sungai pada akhirnya diendapkan di mulut sungai, di mana kecepatan arus tiba-tiba menurun. Kemudian, gelombang laut (longshore currents) mengambil alih dan membawa sedimen pasir ke sepanjang garis pantai. Butiran sedimen pasir yang dibawa oleh sungai-sungai juga diendapkan pada flood plain, channel bar maupun point bar.
***
  • Pettijohn, F. J., Potter, P. E. and Siever, R. 1973. Sand and Sandstone. Springer
  • Siever, R. 1988. Sand, 2nd Edition. W H Freeman & Co.

You Rocks - Sehidup Semati Dengan Batu

Siklus batuan terdiri dari serangkaian proses yang konstan di mana batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk lain dari waktu ke waktu. Sama halnya dalam siklus air dan siklus karbon, beberapa proses dalam siklus batuan ada yang terjadi selama jutaan tahun dan ada juga yang terjadi secara singkat. Untuk lebih mengetahui proses-proses apa saja yang ada dalam siklus batuan, ada baiknya kita mulai dari sumber utamanya, yaitu Magma!

Siklus Batuan - Magma - Beku - Sedimen - Metamorf - SM IAGI UNG

Pada skema siklus batuan di atas; kotak putih mewakili material-material bumi dan anak panah mewakili proses yang mengubah material tersebut. Proses diberi nama dengan tulisan miring di samping anak panah. Energi berasal dari dua sumber utama, yaitu matahari dan panas dari dalam bumi. Matahari berperan dalam proses permukaan seperti pelapukan, erosi, dan transportasi. Sedangkan energi panas dari dalam bumi berperan dalam proses subduksi, pembentukan magma dan metamorfisme. Kompleksitas diagram mencerminkan kompleksitas nyata dalam siklus batuan di bumi. Perhatikan bahwa ada banyak kemungkinan yang mungkin terjadi disepanjang rangkaian proses siklus batuan.

Magma & Batuan Beku

Magma terbentuk hanya pada lokasi-lokasi tertentu di dalam bumi, sebagian besar terbentuk di sepanjang batas lempeng. Ketika magma membeku, magma akan membetuk kristal/mineral, sama halnya dengan kristal es yang terbentuk ketika air didinginkan. Proses ini terjadi di banyak tempat di Indonesia, di mana magma keluar dari proses erupsi gunung api dan membeku di permukaan bumi, membentuk jenis batuan ekstrusif (misalnya: basal atau andesit) di sisi-sisi gunung api. Namun ada juga magma yang membeku di dalam kerak bumi sebelum mencapai permukaan. Jauh di bawah permukaan kerak benua, di zona-zona subduksi di Indonesia, magma membeku membentuk jenis batuan intrusif (misalnya: granit dan diorit). Batuan yang terbentuk dari pembekuan magma disebut batuan beku. Jika membeku di bawah permukaan disebut intrusif, dan jika membeku di permukaan disebut ektrusif.

Gunung Soputan - Sulawesi Utara - Indonesia - PMI Sulut
Gunung Soputan - Sulawesi Utara - Indonesia. (Sumber: PMI Sulut)
Pengangkatan, Pelapukan, & Erosi

Jenis batuan seperti basal, karena terbentuk di permukaan bumi, maka akan segera terpapar dengan atmosfer dan cuaca. Berbeda dengan batuan yang terbentuk di bawah permukaan bumi, seperti granit, untuk bisa tersingkap di permukaan, batuan ini harus terangkat dulu melalui proses tektonik dan kemudian lapisan-lapisan batuan lain di atasnya harus hilang melalui proses erosi. Pada kedua kasus tersebut, segera setelah batuan tersingkap di permukaan bumi, maka proses pelapukan pun dimulai.

Pelapukan pada batuan terjadi karena reaksi fisik dan kimia yang disebabkan oleh interaksi udara, air, dan organisme. Setelah batuan lapuk, angin, air, dan gletser mengikis batuan tersebut menjadi material sedimen melalui proses yang disebut erosi.

Air merupakan faktor yang paling umum dari erosi - Sungai Bone, Sungai Bulango, dan Sungai Boliyohuto adalah sungai-sungai besar yang ada di Gorontalo, yang mengangkut berton-ton material sedimen hasil pelapukan dan erosi dari hulu di daerah pegunungan sampai ke dasar laut setiap tahunnya. Material sedimen yang membentuk point bar dan channel bar Sungai Bone di daerah Botupingge dan sekitarnya kini masih terus dimanfaatkan masyarakat lokal untuk ditambang, dijual dan didistribusikan ke daerah lain sebagai bahan bangunan.

Sungai Bone dan Bulango
Alur transport material sedimen dari pengunungan sampai ke muara sungai di daerah Gorontalo.
Batuan Sedimen

Dalam kondisi alami, endapan material sedimen muda mengubur endapan yang lebih tua, tekanan yang dihasilkan akan membuat endapan lebih tua menjadi kompak. Ketika air bergerak masuk ke material sedimen, mineral seperti kalsit dan silika yang terlarut akan terendap dan mengisi rongga antar butir dan bertindak sebagai semen, merekatkan butiran sedimen satu sama lain. Proses kompaksi dan sementasi ini nantinya akan membentuk jenis batuan sedimen seperti batupasir, batulempung, konglomerat atau breksi. Pembentukan tersebut sekarang sedang berlangsung di dasar muara, delta atau palung yang ada di Indonesia.

Peta yang menunjukan busur gunungapi dan zona subduksi di Indonesia
Peta yang menunjukan busur gunungapi dan zona subduksi di Indonesia.
(Seismic Atlas of SE Asian Basins)
Karena pengendapan sedimen terjadi secara siklus musiman atau tahunan, kita akan sering melihat adanya bentuk lapisan-lapisan pada singkapan batuan sedimen. Tersingkapnya batuan sedimen di permukaan harus mengalami pengangkatan oleh proses tektonik. Pada umumnya pengangkatan terjadi di batas lempeng subduksi, dimana dua lempeng bergerak kearah satu sama lain dan menyebabkan kompresi. Alhasil, jika batuan sedimen tersebut terbentuk di lingkungan laut, maka kita akan menemukan singkapan batuan dengan kandungan fosil organisme laut di pegunungan. Contohnya tidak perlu jauh-jauh ke Gunung Everest! Pegunungan dan perbukitan sekitar Danau Limboto, dan di sepanjang jalan kawasan pantai Leato-Bongo tersusun atas jenis batuan sedimen laut dangkal. Menurut Peta Geologi Lembar Tilamuta (Skala 1:250.000) - P3G, daerah tersebut tersusun atas kalkarenit, kalsirudit, dan gamping koral dengan kandungan sisa-sisa orgnisme laut.

Singkapan ketidak selarasan antara batuan vulkanik dengan batugamping di daerah perbukitan bagian selatan danau limboto - gorontalo.
Singkapan ketidakselarasan antara batuan vulkanik dengan batugamping
di daerah perbukitan bagian selatan Danau Limboto - Gorontalo.
Singkapan batupasir karbonatan di pulau saronde - gorontalo utara
Singkapan batupasir karbonatan di Pulau Saronde - Gorontalo Utara.
Metamorfisme

Jika batuan sedimen atau batuan beku intrusif tidak tersingkap ke permukaan bumi dalam proses pengangkatan atau pun erosi, kedua jenis batuan tersebut akan terkubur lebih dalam lagi. Semakin dalam batuan itu terkubur, maka semakin besar kemungkinan untuk terpapar suhu dan tekanan tinggi yang dihasilkan oleh kompresi tektonik dan energi panas dari dalam bumi, yang nantinya dapat mengubah batuan tersebut. Jenis batuan yang telah terubah di bawah permukaan bumi akibat paparan suhu, tekanan, dan kontak magma disebut batuan metamorf.

Singkapan filit - jenis batuan metamorf - di sungai luk ulo - karangsambung - jawa tengah
Singkapan filit (jenis batuan metamorf) di Sungai Luk Ulo - Karangsambung - Jawa Tengah
Ahli geologi sering menyebut batuan metamorf sebagai batuan yang telah “dimasak” karena proses perubahannya hampir sama dengan yang terjadi pada adonan kue ketika dipanaskan.  Adonan kue dan kue nya itu sendiri mengandung bahan-bahan yang sama, namun memiliki tekstur yang sangat berbeda. Sama halnya pada batupasir (batuan sedimen) dan kuarsit (hasil metamorfosis dari batupasir). Butiran individu pasir yang ada pada batupasir sangat mudah terlihat bahkan beberapa mudah dicopot. Sedangkan pada kuarsit, butiran pasir sudah tidak terlihat lagi, dan cukup keras untuk dipecahkan dengan palu.

Setiap jenis batuan akan terangkat dan tersingkap, kemudian mengalami pelapukan dan erosi. Beberapa diantaranya dapat terkubur dan bermetamorfosis. Proses-proses tersebut telah terjadi selama jutaan dan miliaran tahun yang lalu untuk menciptakan bumi seperti yang kita lihat sekarang ini, sebuah planet yang dinamis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hutton, “The Present Is The Key To The Past” – saat ini adalah kunci menuju masa lalu. Yang berarti, apa yang terjadi saat ini, juga terjadi di masa lalu.
-----
  • Best, Myron G. (2002). Igneous and Metamorphic Petrology, 2nd Edition. Wiley-Blackwell.
  • Jackson, J. A. (1997). Glossary of Geology, 4th Edition. American Geological Institute.
  • Stow, D. A. V. (2005). Sedimentary Rocks in the Field: A Color Guide. Academic Press.

Pembalikan Medan Magnet Bumi - The Earths Latest Magnetic Field Reversal

Telah diketahui sejak lama bahwa medan magnet bumi telah terbalik secara berkala di masa lampau, dimana kutub utara magnet akan menjadi kutub selatan magnet bumi, begitu juga sebaliknya, yang kemudian digunakan oleh para ilmuan dalam pengembangan teori tektonik lempeng (selengkapnya: bukti pemekaran samudera).

Pembalikan medan magnet
Pembalikan medan magnet bumi telah terjadi sebanyak ratusan kali
selama sejarah geologi. (Gambar: INGV)
Peristiwa terakhir pembalikan medan magnet bumi ini disebut oleh para ahli geologi sebagai "Matuyama-Brunhes Boundary" (MBB). Nama tersebut diambil dari dua nama geofisikawan dunia yaitu: Motonori Matuyama dan Bernard Brunhes. Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar 780.000 tahun yang lalu. MBB merupakan salah satu dari daftar Global Boundary Stratotype Sections and Points (GBSSP), yang dipilih oleh International Commission on Stratigraphy sebagai penanda untuk awal Pleistosen Tengah, juga dikenal sebagai Ionian Stage. MBB sangatlah penting dalam mengkalibrasi umur batuan dan peristiwa geologi lainnya yang terjadi di masa lampau. Namun, umur peristiwa MBB ini masih terus diperbaiki karena adanya ketidakpastian dalam metode penanggalan umur yang telah digunakan sebelumnya.

Sebuah tim peneliti yang berbasis di Jepang dan Kanada telah memperoleh data umur baru untuk peristiwa MBB. Tim ini mempelajari debu vulkanik yang terendapkan tepat sebelum peristiwa MBB. Debu vulkanik ini mengandung kristal kecil yang disebut zircon. Beberapa dari kristal ini terbentuk pada saat yang sama saat debu vulkanik diendapkan. Dengan demikian, penanggalan radiometrik dari zircon ini menggunakan metode uranium-lead (U-Pb) untuk mendapatkan umur yang tepat dari debu vulkanik. Untuk memverifikasi temuan mereka, para peneliti juga menggunakan metode yang berbeda untuk mengetahui umur batuan sedimen yang diambil dari tempat yang sama. Hasil penggabungan menunjukkan bahwa umur MBB adalah 770.2 ± 7.3 ribu tahun yang lalu. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Geology.

Matuyama Brunhes boundary - MBB in Chiba Prefecture, Japan.
Foto yang memperlihatkan penampang geologi dari Matuyama-Brunches Boundary, di Chiba Prefecture, Jepang. (a) Overview dari penampang Chiba. (b) dan (c) tampilan close-up dari lapisan debu vulkanik (Byk-E) berada tepat dibawah MBB. Panjang mistar (b) dan diameter koin (c) masing-masing adalah 1.25 m dan 2 cm. (Gambar: NIPR, Jepang)
Dr. Yusuke Suganuma - National Institute of Polar Research, yang merupakan penulis utama, mengatakan: "Penelitian ini adalah yang pertama dalam membandingkan secara langsung data penanggalan radiometrik debu vulkanik, penanggalan batuan sedimen, dan pembalikan geomagnetik untuk Matuyama-Brunhes Boundary. Hasil kerja kami memberikan kontribusi dalam mengkalibrasi skala waktu geologi, dan akan sangat penting dalam studi-studi lain di masa depan tentang peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi saat ini."
-----
Salam,
@EFBumi

Jurnal Terkait:
Suganuma, Y., Okada, M., Horie, K., Kaiden, H., Takehara, M., Senda, R., Kimura, J., Kawamura, K., Haneda, Y., Kazaoka, O. and Head, M.J. 2015. Age of Matuyama-Brunhes boundary constrained by U-Pb zircon dating of a widespread tephra. Journal Geology. v. 43 no. 6 p. 491-494

SM-IAGI UNG

{picture#https://pbs.twimg.com/profile_images/497585628695891970/5H6NQcSq.jpeg} SM-IAGI UNG | Seksi Mahasiswa - Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Negeri Gorontalo | Ekstraksi - Konservasi - Mitigasi {facebook#http://www.facebook.com/smiagiung} {twitter#http://twitter.com/smiagiung} {google#http://plus.google.com/+SMIAGIUNG} {pinterest#http://www.pinterest.com/smiagi} {youtube#http://www.youtube.com/channel/UC6ajXFGGmFmwwt-fsxNqsigL} {instagram#http://instagram.com/smiagiung}
Powered by Blogger.