You Rocks - Sehidup Semati Dengan Batu

Siklus batuan terdiri dari serangkaian proses yang konstan di mana batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk lain dari waktu ke waktu. Sama halnya dalam siklus air dan siklus karbon, beberapa proses dalam siklus batuan ada yang terjadi selama jutaan tahun dan ada juga yang terjadi secara singkat. Untuk lebih mengetahui proses-proses apa saja yang ada dalam siklus batuan, ada baiknya kita mulai dari sumber utamanya, yaitu Magma!

Siklus Batuan - Magma - Beku - Sedimen - Metamorf - SM IAGI UNG

Pada skema siklus batuan di atas; kotak putih mewakili material-material bumi dan anak panah mewakili proses yang mengubah material tersebut. Proses diberi nama dengan tulisan miring di samping anak panah. Energi berasal dari dua sumber utama, yaitu matahari dan panas dari dalam bumi. Matahari berperan dalam proses permukaan seperti pelapukan, erosi, dan transportasi. Sedangkan energi panas dari dalam bumi berperan dalam proses subduksi, pembentukan magma dan metamorfisme. Kompleksitas diagram mencerminkan kompleksitas nyata dalam siklus batuan di bumi. Perhatikan bahwa ada banyak kemungkinan yang mungkin terjadi disepanjang rangkaian proses siklus batuan.

Magma & Batuan Beku

Magma terbentuk hanya pada lokasi-lokasi tertentu di dalam bumi, sebagian besar terbentuk di sepanjang batas lempeng. Ketika magma membeku, magma akan membetuk kristal/mineral, sama halnya dengan kristal es yang terbentuk ketika air didinginkan. Proses ini terjadi di banyak tempat di Indonesia, di mana magma keluar dari proses erupsi gunung api dan membeku di permukaan bumi, membentuk jenis batuan ekstrusif (misalnya: basal atau andesit) di sisi-sisi gunung api. Namun ada juga magma yang membeku di dalam kerak bumi sebelum mencapai permukaan. Jauh di bawah permukaan kerak benua, di zona-zona subduksi di Indonesia, magma membeku membentuk jenis batuan intrusif (misalnya: granit dan diorit). Batuan yang terbentuk dari pembekuan magma disebut batuan beku. Jika membeku di bawah permukaan disebut intrusif, dan jika membeku di permukaan disebut ektrusif.

Gunung Soputan - Sulawesi Utara - Indonesia - PMI Sulut
Gunung Soputan - Sulawesi Utara - Indonesia. (Sumber: PMI Sulut)
Pengangkatan, Pelapukan, & Erosi

Jenis batuan seperti basal, karena terbentuk di permukaan bumi, maka akan segera terpapar dengan atmosfer dan cuaca. Berbeda dengan batuan yang terbentuk di bawah permukaan bumi, seperti granit, untuk bisa tersingkap di permukaan, batuan ini harus terangkat dulu melalui proses tektonik dan kemudian lapisan-lapisan batuan lain di atasnya harus hilang melalui proses erosi. Pada kedua kasus tersebut, segera setelah batuan tersingkap di permukaan bumi, maka proses pelapukan pun dimulai.

Pelapukan pada batuan terjadi karena reaksi fisik dan kimia yang disebabkan oleh interaksi udara, air, dan organisme. Setelah batuan lapuk, angin, air, dan gletser mengikis batuan tersebut menjadi material sedimen melalui proses yang disebut erosi.

Air merupakan faktor yang paling umum dari erosi - Sungai Bone, Sungai Bulango, dan Sungai Boliyohuto adalah sungai-sungai besar yang ada di Gorontalo, yang mengangkut berton-ton material sedimen hasil pelapukan dan erosi dari hulu di daerah pegunungan sampai ke dasar laut setiap tahunnya. Material sedimen yang membentuk point bar dan channel bar Sungai Bone di daerah Botupingge dan sekitarnya kini masih terus dimanfaatkan masyarakat lokal untuk ditambang, dijual dan didistribusikan ke daerah lain sebagai bahan bangunan.

Sungai Bone dan Bulango
Alur transport material sedimen dari pengunungan sampai ke muara sungai di daerah Gorontalo.
Batuan Sedimen

Dalam kondisi alami, endapan material sedimen muda mengubur endapan yang lebih tua, tekanan yang dihasilkan akan membuat endapan lebih tua menjadi kompak. Ketika air bergerak masuk ke material sedimen, mineral seperti kalsit dan silika yang terlarut akan terendap dan mengisi rongga antar butir dan bertindak sebagai semen, merekatkan butiran sedimen satu sama lain. Proses kompaksi dan sementasi ini nantinya akan membentuk jenis batuan sedimen seperti batupasir, batulempung, konglomerat atau breksi. Pembentukan tersebut sekarang sedang berlangsung di dasar muara, delta atau palung yang ada di Indonesia.

Peta yang menunjukan busur gunungapi dan zona subduksi di Indonesia
Peta yang menunjukan busur gunungapi dan zona subduksi di Indonesia.
(Seismic Atlas of SE Asian Basins)
Karena pengendapan sedimen terjadi secara siklus musiman atau tahunan, kita akan sering melihat adanya bentuk lapisan-lapisan pada singkapan batuan sedimen. Tersingkapnya batuan sedimen di permukaan harus mengalami pengangkatan oleh proses tektonik. Pada umumnya pengangkatan terjadi di batas lempeng subduksi, dimana dua lempeng bergerak kearah satu sama lain dan menyebabkan kompresi. Alhasil, jika batuan sedimen tersebut terbentuk di lingkungan laut, maka kita akan menemukan singkapan batuan dengan kandungan fosil organisme laut di pegunungan. Contohnya tidak perlu jauh-jauh ke Gunung Everest! Pegunungan dan perbukitan sekitar Danau Limboto, dan di sepanjang jalan kawasan pantai Leato-Bongo tersusun atas jenis batuan sedimen laut dangkal. Menurut Peta Geologi Lembar Tilamuta (Skala 1:250.000) - P3G, daerah tersebut tersusun atas kalkarenit, kalsirudit, dan gamping koral dengan kandungan sisa-sisa orgnisme laut.

Singkapan ketidak selarasan antara batuan vulkanik dengan batugamping di daerah perbukitan bagian selatan danau limboto - gorontalo.
Singkapan ketidakselarasan antara batuan vulkanik dengan batugamping
di daerah perbukitan bagian selatan Danau Limboto - Gorontalo.
Singkapan batupasir karbonatan di pulau saronde - gorontalo utara
Singkapan batupasir karbonatan di Pulau Saronde - Gorontalo Utara.
Metamorfisme

Jika batuan sedimen atau batuan beku intrusif tidak tersingkap ke permukaan bumi dalam proses pengangkatan atau pun erosi, kedua jenis batuan tersebut akan terkubur lebih dalam lagi. Semakin dalam batuan itu terkubur, maka semakin besar kemungkinan untuk terpapar suhu dan tekanan tinggi yang dihasilkan oleh kompresi tektonik dan energi panas dari dalam bumi, yang nantinya dapat mengubah batuan tersebut. Jenis batuan yang telah terubah di bawah permukaan bumi akibat paparan suhu, tekanan, dan kontak magma disebut batuan metamorf.

Singkapan filit - jenis batuan metamorf - di sungai luk ulo - karangsambung - jawa tengah
Singkapan filit (jenis batuan metamorf) di Sungai Luk Ulo - Karangsambung - Jawa Tengah
Ahli geologi sering menyebut batuan metamorf sebagai batuan yang telah “dimasak” karena proses perubahannya hampir sama dengan yang terjadi pada adonan kue ketika dipanaskan.  Adonan kue dan kue nya itu sendiri mengandung bahan-bahan yang sama, namun memiliki tekstur yang sangat berbeda. Sama halnya pada batupasir (batuan sedimen) dan kuarsit (hasil metamorfosis dari batupasir). Butiran individu pasir yang ada pada batupasir sangat mudah terlihat bahkan beberapa mudah dicopot. Sedangkan pada kuarsit, butiran pasir sudah tidak terlihat lagi, dan cukup keras untuk dipecahkan dengan palu.

Setiap jenis batuan akan terangkat dan tersingkap, kemudian mengalami pelapukan dan erosi. Beberapa diantaranya dapat terkubur dan bermetamorfosis. Proses-proses tersebut telah terjadi selama jutaan dan miliaran tahun yang lalu untuk menciptakan bumi seperti yang kita lihat sekarang ini, sebuah planet yang dinamis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hutton, “The Present Is The Key To The Past” – saat ini adalah kunci menuju masa lalu. Yang berarti, apa yang terjadi saat ini, juga terjadi di masa lalu.
-----
  • Best, Myron G. (2002). Igneous and Metamorphic Petrology, 2nd Edition. Wiley-Blackwell.
  • Jackson, J. A. (1997). Glossary of Geology, 4th Edition. American Geological Institute.
  • Stow, D. A. V. (2005). Sedimentary Rocks in the Field: A Color Guide. Academic Press.

Pembalikan Medan Magnet Bumi - The Earths Latest Magnetic Field Reversal

Telah diketahui sejak lama bahwa medan magnet bumi telah terbalik secara berkala di masa lampau, dimana kutub utara magnet akan menjadi kutub selatan magnet bumi, begitu juga sebaliknya, yang kemudian digunakan oleh para ilmuan dalam pengembangan teori tektonik lempeng (selengkapnya: bukti pemekaran samudera).

Pembalikan medan magnet
Pembalikan medan magnet bumi telah terjadi sebanyak ratusan kali
selama sejarah geologi. (Gambar: INGV)
Peristiwa terakhir pembalikan medan magnet bumi ini disebut oleh para ahli geologi sebagai "Matuyama-Brunhes Boundary" (MBB). Nama tersebut diambil dari dua nama geofisikawan dunia yaitu: Motonori Matuyama dan Bernard Brunhes. Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar 780.000 tahun yang lalu. MBB merupakan salah satu dari daftar Global Boundary Stratotype Sections and Points (GBSSP), yang dipilih oleh International Commission on Stratigraphy sebagai penanda untuk awal Pleistosen Tengah, juga dikenal sebagai Ionian Stage. MBB sangatlah penting dalam mengkalibrasi umur batuan dan peristiwa geologi lainnya yang terjadi di masa lampau. Namun, umur peristiwa MBB ini masih terus diperbaiki karena adanya ketidakpastian dalam metode penanggalan umur yang telah digunakan sebelumnya.

Sebuah tim peneliti yang berbasis di Jepang dan Kanada telah memperoleh data umur baru untuk peristiwa MBB. Tim ini mempelajari debu vulkanik yang terendapkan tepat sebelum peristiwa MBB. Debu vulkanik ini mengandung kristal kecil yang disebut zircon. Beberapa dari kristal ini terbentuk pada saat yang sama saat debu vulkanik diendapkan. Dengan demikian, penanggalan radiometrik dari zircon ini menggunakan metode uranium-lead (U-Pb) untuk mendapatkan umur yang tepat dari debu vulkanik. Untuk memverifikasi temuan mereka, para peneliti juga menggunakan metode yang berbeda untuk mengetahui umur batuan sedimen yang diambil dari tempat yang sama. Hasil penggabungan menunjukkan bahwa umur MBB adalah 770.2 ± 7.3 ribu tahun yang lalu. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Geology.

Matuyama Brunhes boundary - MBB in Chiba Prefecture, Japan.
Foto yang memperlihatkan penampang geologi dari Matuyama-Brunches Boundary, di Chiba Prefecture, Jepang. (a) Overview dari penampang Chiba. (b) dan (c) tampilan close-up dari lapisan debu vulkanik (Byk-E) berada tepat dibawah MBB. Panjang mistar (b) dan diameter koin (c) masing-masing adalah 1.25 m dan 2 cm. (Gambar: NIPR, Jepang)
Dr. Yusuke Suganuma - National Institute of Polar Research, yang merupakan penulis utama, mengatakan: "Penelitian ini adalah yang pertama dalam membandingkan secara langsung data penanggalan radiometrik debu vulkanik, penanggalan batuan sedimen, dan pembalikan geomagnetik untuk Matuyama-Brunhes Boundary. Hasil kerja kami memberikan kontribusi dalam mengkalibrasi skala waktu geologi, dan akan sangat penting dalam studi-studi lain di masa depan tentang peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi saat ini."
-----
Salam,
@EFBumi

Jurnal Terkait:
Suganuma, Y., Okada, M., Horie, K., Kaiden, H., Takehara, M., Senda, R., Kimura, J., Kawamura, K., Haneda, Y., Kazaoka, O. and Head, M.J. 2015. Age of Matuyama-Brunhes boundary constrained by U-Pb zircon dating of a widespread tephra. Journal Geology. v. 43 no. 6 p. 491-494

Belajar Asal Mula Teori Tektonik Lempeng - SM IAGI UNG

Pegunungan Himalaya sering disebut-sebut sebagai “roof of the world” (atap bumi), karena memiliki puncak-puncak tinggi di bumi, salah satunya adalah Everest – 8.850 meter di atas permukaan laut. Puncak gunung ini ditempati oleh batugamping, tipe batuan yang terbentuk di perairan hangat laut dangkal dan pada umumnya tersusun dari sisa-sisa organisme laut, seperti; plankton, terumbu dan ikan.
Bertahun-tahun ahli geologi mencoba mencari tahu, bagaimana bisa organisme laut berada di puncak pegunungan?
Di tahun 1900-an, banyak ilmuan percaya bahwa setelah bumi terbentuk, permukaan bumi mengalami pengerutan. Teori pengerutan ini secara bebas diusulkan oleh dua ilmuan terdahulu di akhir 1800-an dan awal 1900-an, mengimplikasikan bahwa deretan pegunungan seperti Himalaya terbentuk dari proses tersebut. Teori ini mengasumsikan; semua bentuk permukaan bumi dihasilkan oleh satu proses pendingan magma dan kemudian mengerut selama lebih dari 1 juta tahun.

Wegener – “Continental Drift”

Pergerakan Benua dari waktu ke waktu - Wegner 1924
Pergerakan Benua dari waktu ke waktu.
(Wegener, 1924)
Alfred Wegener, seorang ahli geofisika dan meteorologi dari Jerman, tidak puas dengan penjelasan teori pengerutan itu. Ia mengeluarkan ide bahwa benua Afrika dan Amerika Selatan saling bercocokan satu sama lain seperti potongan puzzle. Berdasarkan pengukuran data paleoklimatik dari sisi-sisi benua yang mengelilingi Samudera Atlantik, ia menemukan lapisan batubara yang terbentuk di daerah tropis, membentang dari Amerika Utara – Eropa dan Asia, ketiga benua tersebut jauh di bagian utara dari daerah-daerah tropis moderen. Ia juga menemukan bukti bahwa lapisan es pernah berkembang di Afrika Selatan dan India. Suatu fenomena yang tidak mungkin dijelaskan berdasarkan tatanan benua-benua saat ini.

Wegener mengajukan teori pergeseran benua dalam bukunya yang berjudul “The Origins of the Continents and the Oceans”, diterbitkan di Jerman pada tahu 1915 dan di Inggris pada tahun 1924. Teorinya menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 300-360 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang di sebut Pangea. (lihat animasinya)

Apa yang menyebabkan benua bergerak?

Ketika buku Wegener diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, dan Rusia pada tahun 1924, banyak orang yang mencemooh teori tersebut. Salah satu masalah utama adalah ia tidak mencantumkan mekanisme dorongan dalam teori pergerakan benua.
Gaya apa yang menggerakkan benua? Dari mana asalnya? Berapa besar gaya yang dibutuhkan untuk memindahkan sebuah benua?
Barulah pada 1960-an, mekanisme dorongan yang merupakan kunci penting untuk teori pergerakan bunua, mulai terjawabkan. Wegener telah membuat peryataan berdasarkan data-data yang diambil dari benua, saat itu ia tidak menyadari bahwa ada daerah yang luas tersembunyi berkilo-kilometer di bawah lautan yang menutupi hampir 70% permukaan bumi. Perang Dunia I dan II membawa perkembangan teknis dan ilmiah yang memungkinkan ilmuan untuk memetakan dasar samudera dan mengukur kemagnetan batuannya secara detil. Kedua data tersebut mulai dikembangkan untuk memperkuat teori pergerakan benua.

Memetakan lantai samudera

Sebelum 1920-an, bentuk dasar samudera dianggap datar dan tidak memiliki ciri khusus. Namun, Selama Perang Dunia I, kapal-kapal yang dilengkapi sonar mulai menghasilkan data tentang topografi dasar samudera. Berdasarkan peta sonar ini para ilmuan mulai menyadari bahwa dasar samudera ternyata bukan hanya datar tapi juga memiliki lembah dan pegunungan.

Yang paling mengejutkan para ilmuan adalah penemuan deretan punggungan di sepanjang pertengahan samudera Atlantik, punggungan ini memiliki tinggi 1 – 2 km dari dasar laut di sekitarnya dan parallel dengan pantai di kedua sisinya. Punggungan serupa, yang di sebut “mid-ocean ridges” (pematang tengah samudera) oleh penemu mereka, juga ditemukan di bagian timur Samudera Pasifik dan bagian barat Samudera Hindia.
Berdasarkan fakta bahwa punggungan ini parallel dengan tepian benua di kedua sisinya, para ilmuan mengaitkannya dengan teori pergerakan benua, tapi apa?
Harry Hess – Geologist di Princeton University, melalui makalahnya yang diterbitkan tahun 1962 berjudul “History of Ocean Basins”, mengusulkan bahwa punggungan dasar samudera itu menandakan daerah dimana magma naik ke permukaan. Ekstrusi magma tersebut mendorong dasar samudera menjauh dari punggungan seperti conveyor belt. Sementara, palung-palung yang ditemukan di lepas pantai Amerika Selatan dan Jepang, merupakan wilayah dimana dasar samudera didorong masuk ke bawah benua yang tebal, Hess menyebutnya sebagai zona subduksi. Teori “seafloor spreading” yang diusulkan Hess menyimpulkan mekanisme dorongan untuk memperkuat teori Wegener, akan tetapi masih membutuhkan banyak bukti.

Mid Ocean Ridge (internet)
Pematang tengah samudera dan zona subduksi. (internet)
Kemagnetan batuan dasar samudera

Pada tahun yang sama saat Hess mengajukan teorinya, Angkatan Laut Amerika Serikat menerbitkan sebuah laporan yang berisi tentang temuan mengenai kemagnetan batuan dasar lsamudera. Selama Perang Dunia II, kapal-kapal menggunakan magnetometer untuk mecari kapal selam. Magnetometer digunakan setiap kali saat kapal melakukan perjalanan bolak-balik melintasi Atlantik dan Pasifik, dan mereka menemukan lebih dari sekedar kapal selam.
Ketika para ilmuan Angkatan Laut memeriksa data, mereka menemukan grafik yang menunjukan anomali pergantian kemagnetan kuat dan lemah pada batuan dasar samudera.
Data kemagnetan dihasilkan dari kehadiran mineral-mineral magnetik pada batuan, contohnya; mineral magnetit, yang umum terdapat pada batuan basalt sebagai penyusun batuan dasar samudera. Ketika magma mulai membeku, mineral magnetit akan searah dengan medan magnet bumi seperti yang terjadi pada jarum kompas.

Strip magnetic anomalies
Contoh gambar yang menunjukan anomali kemagnetan yang simetris
pada pematang tengah samudera. (homepage.smc.edu) - gambar lain
Kehadiran medan magnet bumi sudah diketahi sejak dahulu kala, tapi baru setelah Perang Dunia II para ilmuan menyadari bahwa polaritas medan bumi tidak selalu tetap. Saat ini kita berada pada polaritas normal, dimana jarum kompas akan mengarah ke utara. Tetapi pada suatu waktu tertentu di periode sebelumnya, polaritas pernah terbalik, yang berarti jarum kompas akan mengarah ke selatan. Fenomena pembalikan medan magnet sebelumnya sudah pernah ditemukan pada batuan kontinen, kasusnya sama dengan yang ditemukan pada batuan lantai samudera. Pembalikan paleomagnetik bumi yang terekam pada basalt, merupakan bukti bahwa medan magnet bumi pernah beberapa kali mengalami pembalikan sepanjang sejarah geologi.

Bukti pemekaran lantai samudera

Pada 1963, Fred Vine dan Drummond Matthews, ahli geologi Inggris, bergabung dalam kegiatan pemetaan topografi pematang tengah samudera Atlantik, mereka menemukan pola simetrik pada grafik pengukuran kemagnetan batuan dasar samudera. Ketika kapal Angkatan Laut Amerika merekam kemagnetan yang kuat, batuan menunjukan polaritas normal; dan ketikan kapal merekam kemagnetan yang lemah, batuan menunjukan polaritas terbalik.
Grafik yang dihasilkan tidak hanya paralel dengan pematang tengah samudera, namun juga berpola simetris.
Pola simetris tersebut menyimpulkan bahwa magma telah naik ke permukaan dan membeku mengunci medan magnet pada saat itu, kemudian didorong menjauh dari punggungan ke arah yang berlawanan. Catatan pembalikan paleomagnetik ini terekam sepanjang regenerasi kerak baru dari waktu ke waktu, sekaligus memberikan bukti yang diperlukan untuk teori pemekaran lantai samudera yang diusulkan oleh Hess.

Karya Hess, Vine, dan Matthews menghasilkan peta bumi yang baru, dengan adanya penambahan fitur dasar laut, diantaranya adalah pemekaran lantai samudera dan zona subduksi.
Peta Batas Lempeng Tektonik - usgs
Garis merah menunjukan pematang tengah samudera. Garis kuning menunjukan zona subduksi.
Sedangkan garis biru bukan termasuk keduanya. (USGS)
Keberlanjutan bukti teori Tektonik Lempeng

Saat ini, banyak bukti-bukti tentang tektonik lempeng yang diakuisisi dengan teknologi satelit. Melalui penggunaan Global Positioning System (GPS) dan teknik pengumpulan data berbasis satelit lainnya, para ilmuwan dapat langsung mengukur velocity (kecepatan dan arah gerakan) dari lempeng di permukaan bumi.

Himalaya, ternyata, mulai terbentuk sekitar 50 juta tahun yang lalu ketika Lempeng India bertabrakan dengan Lempeng Eurasia, mengangkat dan melipat batuan yang terbentuk di bawah permukaan laut ke puncak gunung. Karena Lempeng India sampai sekarang masih bergerak ke utara, maka Himalaya masih terus terangkat dengan laju sekitar 1 cm per tahun.
Kita tidak perlu lagi menggunakan teori pengerutan bumi untuk menjelaskan keberadaan fosil laut di puncak Himalaya; yang ternyata itu merupakan proses tektonik lempeng.
Bumi sangat dinamis – rantai pegunungan terbentuk dan kemudian tererosi, sebuah gunung berapi erupsi dan kemudian punah, muka air laut naik dan kemudian surut, perubahan-perubahan ini semua adalah hasil dari proses tektonik lempeng. Teori pergerakan benua yang diusulkan oleh Wegener merupakan langkah awal dalam pengembangan teori tektonik lempeng, yang kemudian menjadi fondasi dalam pengembangan konsep-konsep geologi moderen.
---
Compiled by @EFBumi

Referensi:
  • Hess, H. H., 1962, "History Of Ocean Basins". In Petrologic Studies: A volume in honor of A.F. Buddington. Geological Society of America, p. 599-620.
  • Vine, F. J., and Matthews, D. H., 1963. "Magnetic Anomalies Over Oceanic Ridges". Nature, v. 199, no. 4897, p. 947-949.
  • Wegener, A., 1924. "The origin of Continents and Oceans" (Entstehung der Kontinente und Ozeane). Methuen & co.

Gunung Sinabung di Indonesia pernah dianggap sebagai gunung api dorman (tidur) selama lebih dari 400 tahun, sampai akhirnya erupsi dalam jangka waktu satu bulan pada tahun 2010. Kemudian erupsi lagi pada 15 September 2013, hingga sampai sekarang masih menunjukan aktivitas vulkanik.

Memahami mengapa sebuah gunung api bangkit dari status dorman bukanlah tugas mudah bagi para ilmuan, tetapi sebuah makalah yang diterbitkan tahun lalu dalam Solid Earth menunjukan bahwa beberapa gempa mega-thrust yang terjadi di Sumatra baru-baru ini memicu erupsi Sinabung.

Peta lokasi titik-titik gempa mega-thrust di wilayah Sumatra
Peta lokasi gempa megathrust Sumatra.
(Californis Institute of Technology)
Gunung Sinabung adalah salah satu dari beberapa gunung api yang terletak di sepanjang zona subduksi Sumatra di Samudera Hindia. Daerah ini merupakan bagian dari The Ring of Fire, sangat aktif secara geologis. Kaldera Danau Toba yang berjarak sekitar 40 km dibagian tenggara Gunung Sinabung, adalah situs yang diketahui sebagai hasil erupsi supervolcanic terakhir di Bumi sekitar 75.000 tahun yang lalu.

Matteo Lupi dan Stephen Miller, penulis makalah dalam Solid Earth mengatakan, tiga gempa besar yang terjadi di wilayah ini selama tahun 2005 dan 2007 mungkin telah memicu aktivitas vulkanik Gunung Sinabung. Gempa-gempa ini meliputi; M8,6 2005, M7,9 dan M8,4 2007. Gempa dahsyat M9,2 yang melanda Indonesia pada bulan Desember 2004 kemungkinan tidak terlibat, karena gempa ini terjadi di wilayah sebelah utara busur vulkanik.



Peta lokasi jajaran gunung api terkait dengan Tunjaman Sumatra
Peta: jajaran gunung api yang terkait
dengan Sumatra Trench. (wikipedia)
Berdasarkan dalil-dalil geomekanik, geologi dan geofisika, kedua peneliti tersebut menyimpulkan bahwa gempa-gempa subduksi besar dapat mengaktifkan busur vulkanik karena mengubah jenis dan jumlah tektonik stres bawah permukaan. Sedangkan tekanan kompresi yang dirilis setelah terjadi gempa subduksi, dapat mengakibatkan gerakan strike-slip dan jenis-jenis stres tektonik lainnya. Gerakan tersebut, pada akhirnya dapat membuka saluran baru untuk aliran magma dan meningkatkan permeabilitas sistem vulkanik keseluruhan. Hal ini juga dapat menyebabkan perubahan tekanan pori yang membuat magma lebih cenderung untuk erupsi.

Fonomena semacam ini juga telah teramati setelah kejadian gempa besar di wilayah lain di dunia, seperti Chili dan Jepang.

Yang terpenting lagi, para ilmuwan mencatat bahwa gagasan gempa besar dapat memicu erupsi gunung api bukanlah hal yang baru. Charles Darwin sebenarnya pernah mendokumentasikan peningkatan aktivitas vulkanik di Chile setelah kejadian gempa M8,5 tahun 1835, yang kemudian temuan ini ia terbitkan di tahun 1840.
------
Compiled by  @EFBumi

Jurnal terkait:

SM-IAGI UNG

{picture#https://pbs.twimg.com/profile_images/497585628695891970/5H6NQcSq.jpeg} SM-IAGI UNG | Seksi Mahasiswa - Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Negeri Gorontalo | Ekstraksi - Konservasi - Mitigasi {facebook#http://www.facebook.com/smiagiung} {twitter#http://twitter.com/smiagiung} {google#http://plus.google.com/+SMIAGIUNG} {pinterest#http://www.pinterest.com/smiagi} {youtube#http://www.youtube.com/channel/UC6ajXFGGmFmwwt-fsxNqsigL} {instagram#http://instagram.com/smiagiung}
Powered by Blogger.